Semua orang pasti punya
cerita cinta monyet, cinta waktu SMP, cinta SMA atau cinta-cinta yang lain. Dan
ini ada sebuah cerita cinta waktu SMA.
**
Setelah lulus SMP saya dibuat bingung akan melanjutkan kemana. Tanya ke mama masuk SMA 1 aja, tanya sepupu SMA 1 aja, sedikit berlainan dengan pilihan saya masuk ke SMA 2. Karena bingung saya tanya ke papa. Sedikit kesal dengan jawaban papa “tidak usah lanjut saja, pilih sekolah saja susah, pilih dimana saja”. hihihihi.. walaupun dengan nada bercanda tapi sedikit kesal. Dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih.. “bismillah SMA 2”.
Waktu pendaftaran pun
dimulai. Karena berpikir sudah besar (dewasa maksudnya ^^) saya melakukan
pendaftaran sendiri (bersama kawan-kawan maksudnya). walaupun beberapa
orang sedikit menyayangkan tentang pilihan saya ini, namun saya akan buktikan
bahwa apapun sekolahnya minumnya teh botol sosro.. aduh nyambung kemana ni???
Maksudnya dimana pun tenpat belajarnya, yang terpenting adalah bagaimana cara
belajar kita, bagaimana pengajarnya dan bagaimana pelajarannya. Toh tidak ada
sekolah yang mengajarkan kita pada kejelekan.
Masa pembelajaran pun
dimulai. Bulan pertama pembelajaran absensi saya sudah bervariasi,
“I” sebanyak 10 hari. . wah tamasya kemana ? aduh, bukan-bukan. Kabar duka,
nenek tercinta meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Semoga amal ibadahnya
diterima dan di tempatkan ditempat terbaik disisi_Nya amiin ya
rabbal alamin.
Walaupun tertinggal,
namun masih dapat terkejar walaupun untuk kesan diawal pertemuan tidak
kebagian. Tapi masih bisa kan mengejar ditengah perjalanan. 10 hari bukan waktu
yang cukup singkat. Karena izin tersebut saya merasa tak punya teman. ketika
ada kegiatan sekolah yang diadakan oleh OSIS tanpa berpikir 3 kali (berarti
sempat berpikir 2 kali) saya memutuskan untuk ikut. Ya hitung-hitung menambah
pengalaman dan teman. kegiatannya diadakan beberapa hari lagi. Waktu dan
tempatnya pun jelaskan dengan sejelas-jelasnya.
Hari itupun tiba.
Kamipun berkumpul dalam sebuah ruangan untuk menunggu giliran. Giliran seleksi.
Jadi deg-deg.an (^_^). Pengumuman diumumkan keesokkan harinya dan
bersyukur saya lolos. Kami pun dikumpulkan kembali untuk memberitahukan
perlengkapan yang kami harus persiapkan.
Dan hari itu pun tiba,
kami dikumpulkan dalam ruangan yang cukup besar. Menerima materi dari pagi
hingga sore hari. Dan pada malam harinya kami melakukan petualangan yang tidak
akan terlupakan.
Kami digiring kelapangan
disuruh berbaring. Menghadap kelangit. Sungguh menakjubkan. Selama ini saya
belum pernah melihat bintang sambil tiduran ( walaupun kesal terima kasih ^^).
Hamper semua peserta telah dipanggil namanya. dan akhirnya saya terpanggil
juga. Urutan kelompok saya ke 2 dari belakang. Petualangan pun dimulai.
Pos demi pos dilalui.
Mulai dari pos bayangan, pos nyata entah apa namanya, berbagai bentuk gaya
telah saya praktekkan dari pos ke pos. rasa takut akan kegelapan pun hilang
berganti rasa pahit, asam asin (permen nano-nano ^^). Dan tibalah disebuah pos.
entah pos nyata atau bayangan. Dan dipos inilah awal saya mengagumi seseorang.
Seseorang yang sampai sekarang tetap saya kagumi. Suasana memang gelap, namun
sosok itu terlihat jelas bagi saya (ya ialah diakan pegang lilin).
Teriakan-teriakan yang dikeluarkan bisa membuat orang semakin takut, tapi entah
mengapa justru ditelinga saya bagai puisi (so sweet bangeet). Tapi sayang,
waktu dipos tersebut tdak begitu lama, harus berpindah ke pos berikutnya. dan
akhirnya semua pos terlewatkan sebelum tiba waktu subuh. Rasa lelah memang
menyergap tubuh ini. Namun terima kasih ya Allah, bisa mengenal sebuah sosok
walaupun kita tak saling berkenalan.
Keesokkan harinya saya
melihatnya. Melihatnya dengan sangat jelas. Namun apa daya, saya hanya bisa
melihatnya dari kejauhan. Melihatnya dengan senyum manis yang membuat hari ini
terasa sangat cerah bagi saya..
Hari berlalu, walaupun
tak berkenalan. Namun bukan berarti saya tak mengenal namanya. Hari senin
adalah saat yang sangat ditunggu. Walaupun terik mentari yang cukup panas,
namun melihat sosoknya membuat sedikit angin sepoi berhembus. Amanat Pembina
upacara yang cukup lama pun tidak menjadi masalah J
Ternyata seperti inilah
mengagumi orang secara diam-diam. Menutupnya rapat dan tak ingin membuatnya
menguap. Dan terkadang harus sedikit mengulur waktu pulang untuk melihatnya
dalam sehari. Saya bingung kenapa bisa tertarik padanya? Bahkan sepupu saya
sendiri mengatakan saya orang aneh..
Waktu berjalan dan dia
pun berada dikelas ujian. Saat yang sangat sibuk untuk kelasnya saat ini.
Intensitas melihatnya pun berkurang. Dan waktu pelulusan pun tiba. Saat dimana
dia tidak ada lagi di sekolah ini. Tak ada lagi curi pandang saat upacara
sekolah.
Dan terjadilah. . .
**
Hari ini adalah
pengumuman kelulusan angkatan saya. Deg-deg.an tapi yakin bahwa insyaallah
lulus. Dan ternyata benar. “LULUS”. Dan terulang lagi kejadian tahun
lalu, bingung akan melanjutkan kemana. Akhirnya ibu menyuruh untuk bimbingan.
Dan berangkatlah saya kesana.
Bagaimana pun takdir
Tuhan yang menentukan. Hasil Ujian masuk perguruan tinggi negeri yang
saya ikuti tidak seperti yang saya inginkan. Semua pilihan yang saya pilih
tidak lulus.
Dan besedihlah saya saat
itu, makan tak enak, tidurpun tak enak (kasihan sekali). Tapi jika saat itu
saya lulus belum tentu saya akan tiba disini, dan belum tentu juga saya akan
akrab dengannya. Dengan dia yang telah membuat saya terpanah 4 tahun yang lalu.
Walaupun berkenalan dari
dunia maya, tapi setidaknya kita sudah berkenalan. Bertukar cerita, dan tak
jarang saya tertawa sendri. Terkadang saya sedikit kesal, kesal dengan sikap
cuek. Tapi sikap seperti itulah yang membuat saya menyukainya. CUEK.
Tapi . . saya sudah
tersadar sekarang, sampai kapan saya terus seperti ini. Mengagumi seperti ini.
Namun setidaknya saya
sudah sedikit legah, rahasia itu telah saya ungkapkan padanya. Bahwa saya
sempat mengaguminya. Walaupun akhirnya rasa itu telah kututupi dengan kata
“TAPI DULU”, namun ketahuilah masih ada sedikit rasa yang tersimpan.
Saya sadar bahwa kau
hanya menganggap saya sebagai teman. rasa rindu yang sering saya katakan setiap
canda, terkadang memang mewakili rasa ini. Tapi terima kasih telah berkata
jujur walaupun membuat saya sedih. Terima kasih untuk ceritanya. Terima kasih
telah meluangkan waktunya untuk membalas chating-chating ini. Dan terima kasih
untuk perhatiannya walaupun sebenarnya tidak lebih sebagai perhatian kakak
terhadap adik.
Dan saya pun mulai
berusaha, berusaha untuk tidak menganggap lebih setiap kata yang diutarakannya.
Terima kasih telah menyadarkan saya agar tak berharap lebih padanya J
__terima kasih untuk kau yang jauh disana__
__terima kasih untuk kau yang jauh disana__
**
Demikian cerita pendek dari saya, hanya sebuah cerita, cerita yang telah memberikan warna dalam
hidup. Entah ini benar atau tidak hanya saya yang tahu. Dan untuk tokoh “DIA”
dalam cerita ini. Terima kasih J, telah muncul
memberikan inspirasi cerita pendek ini . . .
Thank you for reading ^^

0 comments: