Entah apa namanya, saat rasa ini
berkecambuk dijiwa. Terkadang saya bingung, ada apa dengan saya? Apa yang
terjadi? Apa yang ingin saya lakukan? Kemana saya ingin pergi? Entah mengapa
rasa itu sulit untuk dijabarkan satu persatu. Terkadang tiba-tiba terdiam dan
terkadang banyak kata yang terucap entah apa yang telah saya utarakan.
Dan hal yang sangat menyebalkan. Saat
rasa ini sulit dijabarkan justru
orang-orang yang saya inginkan hadir untuk menenangkan justru menghilang tak ada
kabar. Atau tiba-tiba mereka hadir dengan berbagai perhatian palsu mereka.
Jujur saya tersiksa, tersiksa karena rasa yang salah saya artikan. Rasa yang membuat saya bahagia namun ternyata hanya bayang-bayang. Kenapa harus seperti ini. Mebantu membalut luka ini, namun tiba tiba dilepas . sakittt.
saya selalu membuka pintu terhadap
semua orang yang ingin masuk, namun semua ini membuat saya semakin tertutup. Tertutup
karena takut hal yang sama akan terjadi.
Berlabuh dibeberapa dermaga, sering
membuat saya bersedih. jika sebelumnya ingin sekali menemukan dermaga untuk
segera berlabuh. Namun sekarang berbeda. Saya ingin terus berlabuh karena
takut. Takut terulang kembali. Saat rasa bahagia menyelimuti hati, karena
keindahan dermaga, tiba-tiba telah berlayar ketengah lautan. Kenapa? Karena sudah
ada layar yang ingin berlabuh pula. Layar yang lebih indah dibanding layar ini.
Saya mengerti sekarang, kenapa rasa
ini selalu berkecambuk.
Karena Saat rasa ini menginginkan perhatian dan rasa dari diri
mereka, akal ini melarang dengan keras. Kenapa?Karena saat hati mulai
tersakiti lagi, akan sulit untuk akal berjalan normal seperti biasa.

0 comments: