Senior dan junior terkadang menjadi sebuah pembeda dan pembatas
untuk saling beinteraksi. Tapi kisah kali ini sedikit beda. Dia bukan seperti
senior yang kebanyakan kukenal. Senior yang biasanya menjadikan status tersebut
untuk bertindak seenaknya pada juniornya. Yang banyak berkata-kata untuk
membuktikan seberapa hebatnya dia. Sehinga hampir kusimpulkan bahwa semua
senior itu “SAMA”.
Namun, pandangan itu mulai sedikit terbantahkan. Bermula sebuah
kegiatan kampus. Awalnya saya hanya ikut
teman saja, dan ada senior
tersebut. senior yang belum pernah
bertemu sebelumnya. Kisahnya sudah sering ku dengar dari senior – senior yang
lain, tapi untuk bertemu secara langsung belum pernah. Seperti biasa saya
langsung berasumsi bahwa pasti seperti senior yang biasanya, banyak berucap
tapi kadang tak sesuai dengan implementasi. Dan benar adanya, begitu banyak
teori yang disampaikannya, tapi pembuktiannya saya belum bisa dibuktikan.
Waktu terus berjalan. Dan tibalah
pada sebuah forum dengan sitkon yang cukup serius. semua hadir pada acara itu, termasuk senior
itu. jika dilihat senior itu tak secantik artis ibu kota, tapi tidak juga
bilang dibawa rata-rata. Untuk akademik, dia cukup menjadi yang diperhitungkan.
Begitu menurut cerita yang beredar. Diskusi dimulai. Awalnya dia hanya sebagai
pihak penyimak, sambil mencoret-coret sebuah kertas. Entah apa yang ditulisnya.
Suasana semakin larut, dan alur pembicaraan semakin panas. Dan tiba-tiba ada
suara yang masuk, yang selama forum
berjalan belum pernah terdengar. Yah, dia adalah senior itu. senior yang
sedari tadi hanya diam dalam tulisannya. Dengan anggun dia memaparkan
argumentnya. Dalam forum ini, jumlah wanita bisa dihitung dengan jari bahkan
bisa dihitung walau hanya dengan satu tangan. Senior itu membuktikan bahwa,
wanita bisa berbicara walaupun dalam
forum yang didominasi oleh pria. Suaranya tegas dan berwibawa.
Kata-katanya diatur dengan baik sehingga mudah dipahami. Semua menyimak dan
memberikan waktu hingga selesai. Suasana berbeda ketika senior itu yang
berbicara. Mungkin sejak saat itu, saya mulai KAGUM padanya.
Kisah berlanjut. Saya dan senior itu sering terlibat dalam beberapa
kegiatan. Hingga yang awalnya hanya bisa
melihat dari jauh, sekarang bisa melihat lebih dekat. Tak sengaja
setelah kegiatan, saya dan senior pulang bersama. Meskipun kami sudah cukup
dekat namun, rasa segan terhadap senior masih ada. kami naik angkutan yang
sama. Tak ada percakapan dimenit awal. Namun beberapa menit kemudian, dia
membuka percakapan dengan bertanya pada
ku. Hingga berlanjut ke Tanya jawab. Perjalanan yang biasa ditempuh dalam 10
menit, berubah menjadi lebih lama karena macet. Ternyata ada hikmah dari
kemacetan ini. karena macet tersbut aku jadi tahu bahwa dia adalah orang yang sangat easy going. Ada beberapa kisah yang
dikisahkan, dan selalu ada nilai yang bisa diambil dari kisah tersebut. ingin
rasanya macet itu lebih lama. Masih ingin mendengar lebih banyak kisah yang ia
kisahkan. Dalam diamku menyimaknya, terbesit sebuah pertanyaan. “adakah yang
telah memiliki wanita ini?”. ya, aku sadar, aku hanya seorang junior yang masih
butuh banyak belajar. Yang masih jauh dari dia.
Dan sejak saat itu, aku bingung dalam mengartikan perasaan yang
tidak jelas tentag dia. Apakah ini masih perasaan “kagum atau Jatuh CInta”.

0 comments: