Huaamm,,
Selamat pagi dunia. Upss sebenarnya gk lagi pagi denk. Mentari udah terlalu lama berjalan menuju puncak. Jadi saya ganti ya. SELAMAT SIANG.
Selamat pagi dunia. Upss sebenarnya gk lagi pagi denk. Mentari udah terlalu lama berjalan menuju puncak. Jadi saya ganti ya. SELAMAT SIANG.
Petama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada
ALLAH SWT, karena atas kemaha kuasaan_Nya napas ini masih berhembus, tidur
masih terbangung, jiwa dan raga masih kompak menjalani aktifitas, dan segala
kebaikan yang terjadi hingga detik ini.
Tak lupa salawat dan salam kita hanturkan kepada junjungan
besar nabi MUHAMMAD SAW, yang telah mengantarkan kita dari jaman yang gelap,
kejaman yang terang benderang, jaman kemenangan seperti sekarang ini.
Terima kasih kepada orang tua, kakak-kakak, adik-adik dan
keluarga tercinta yang selalu memberikan suportnya.
(hahahha, udah kayak mau pidato aja ~_~)
Sebenarnya udah lama sih saya mau cerita, tapi seperti biasa,
“THE POWER of LAZY” atau “THE POWER of BED” yang begitu kuat, hingga saya tak
mampu untuk melawannya. (hihihihh). Dan berhubung daya ingat saya gak kuat-kuat
banget ,jadi alangkah baiknya cerita ini
saya arsipkan terlebih dahulu sebelum bobot ceritanya berkurang. (aduh
bahasanya,, hohohoo).
Dalam catatan hidup saya, setiap ketawa-ketiwi pasti akan ada
sesuatu yang terjadi. Entah itu setelah kejadian (ketawa-ketiwinya) atau
beberapa hari kemudian. Seperti dahulu kalah (jika tak salah ingat), setelah
ngumpul-ngumpul sama teman, tertawa lepas , eh pas pulang ban motor bocor, mana
sendirian tempat bengkel masih jauh, dan yang lebih apesnya uang yang dibawa gk
cukup. Tapi seperti biasa, telpon adik, bawain uang, trus gantian jaga
(hohohoho, syukur adiknya baik walaupun diawali dengan ngomel). Nah kejadian
itu terjadi lagi disini (Korea).
Ceritanya seperti ini.
Jum’at , saya dan teman-teman menari sepakat untuk
jalan-jalan, tamasya, rekreasi atau apalah namanya, intinya hang out. Selama berjalan pasti ada-ada aja bahan yang
diperbincangkan yang mengundang tawa. Mulai dari cerita kak flo yang jatuh ke
air malam-malam, perdebatan seorang
pasangan antara jepang dan Korea, kambing Korea, kakek-kakek photo grapher dan
masih banyak lagi. Hari itu adalah hari dimana semua masalah seakan pergi bersamaan
dengan suara tawa yang keluar.
Dan tidak sampe distu saja, tertawa masih berlanjut saat
makan, dan disinilah tertawa yang selepas-lepasnya (hahhahahah) apalagi
pelanggan rumah makan udah sepi (yaialah kita yang terakir hihihihihi). Belum makan
udah kenyang duluan karena ketawa, ditambah porsi makan yang besar, tambah
kenyang gk sanggup jalan. Udah ada perasaan was-was sih. Ketawa-ketiwinya tidak
sampe distu, saat menunggu bus pun cerita masih berlanjut. Gk kuat, udah
kenyang karena makan ditambah lagi yang ini. Tewas
Saat dibus, udah agak mendingan. Dan sampailah ke stasiun yang akan
mengantarkan kami ke stasiun-stasiun kami masing-masing. Di sini udah agak
seram ni. Mungkin udah hal yang biasa sih bagi teman-teman yang udah lama disni
menunggu subway sampe jam sekitar 11-an lah. Tapi bagi saya yang baru
menginjakkan kaki di Korea merupakan pengalaman yang baru. Setelah subway yang
ditunggu datang tanpa dikomandoi semua langsung bergegas naik (yailah, mau
nunggu apa lagi coba). Setelah tiba distasiun berikutnya, kami berpisah kearah
maisng-masing. Dan disinilah petualangan saya terjadi. Bersama seorang teman,
dengan percaya dirinya kami memilih salah satu tangga turun tanpa memastikan
apakah arah tersebut telah benar. Kurang lebih 30 menit kami menunggu hingga
rasa takut itu mulai datang. Mengapa tidak. Pakaian begitu mencolok. Bukan mencolok
karena warnanya yang begitu terang atau karena pakaian kami bagaikan tokoh
super hero dengan kostumya menarik. Bukan, bukan, Tapi karena pakaian kami
(saya dan teman) begitu tertutup, dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan
ukuran yang cukup longgar. Dan saya rasa lebih mencolok jika dibanding dengan
cewe-cewe yang berpakaian seksi. Apalagi
teringat perkataan seorang senior penari, “disini beberapa orang belum
sepenuhnya menerima kedatangan para pendatang apalagi orang-orang tuanya. Lebih
parahnya lagi kalau dalam situasi mabuk, berhati-hati sajalah”. Seram, jadi
teringat saat pulang bersama kakak tersebut , dan didekati pria mabuk. Syukur ada
kakak.. huft, jadi lemes.
Subway tiba, dan kami pun segera berebutan masuk dengan
penumpang yang lain. Setelah melewati beberapa stasiun, baru tersadar bahwa
jalur yang saya lewati keliru. Tidak seperti perencanaan awal. Segera mengambil peta untuk melihat stasiun
terdekat untuk transit. Dan ternyata baru saja terlewati. Waduh.. paragh. Terpaksa kami lanjut menuju stasiun terakhir dengan rencana
akan transit keline untuk 2x transit. Rasa semakin takut,
penumpang tinggal beberapa orang . pikiran buruk pun silih berganti
mempengaruhi rasa was-was ini. Menuju stasiun terakhir, beberapa lampu kereta
tiba-tiba padam, nah loh, ada apa ini. Walaupun panic saya berusaha untuk tetap
terkontrol, dengan segala doa dipanjatkan untuk keselamatan. Tiba distasiun
terakhir, ternyata arah subway yang kami rencanakan telah berhenti (udah
stop).tambah panic, ditambah pertanyaan-pertanyaan dari teman, yang sebenarnya
pertanyaan biasa, jadi membuat stress. Bisa kebayang kan suasan panic ditambah
desakan pertanyaan, bisa gila, dan saya bersyukur bisa mengendalikan emosi, control
pikiran dan terus berjalan mencari titik terang agar bisa tiba dengan selamat
dan tidur dengan tenang. Tanpa berpikir
panjang, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang pria, dan
bersyukur dia bisa berbahasa inggris. Masih ada dan merupakan yang terakhir “24.10”.
sungguh Kurasakan tangan Tuhan membantuku.
Kami harus transfer lagi, dan jalan menuju line yang kami
maksud begitu jauh. hingga saya pun berkata pada teman “kalau memang udah tidak
ada lagi, ya sudah kita keluar saja, cari taman, atau sevel terus kita sahur
distu besok baru pulang”. Perkataan yang terucap dari tubuh yang telah begitu
lelah. Bagaiman tidak. Saya telah berjalan jauh sejak pagi, memakai sedikit energy
dengan bermain bersama anak-anak kelas 5 dan sorenya saya lanjut hang out bersama teman. saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Karena sayalah
yang salah tidak melihat petunjuk sebelum bertindak. Setiap perkara pasti
selalu ada hikmahnya. Dan kali ini pesan ortu terngiang lagi “boli
kalida-kalida, fikiri pea simpo ubengkala (artinya jika tak salah seperti ini,
jangan terlalu gegabah/terburu-buru, berpikir dulu baru bertindak).
Lanjut kecerita.
Subway datang, walaupun tak dapat tempat duduk tetapi
bersyukur subway yang ini masih ramai, jauh berbeda dengan kereta sebelumnya
yang begitu sepi. Berjalanan kurang lebih 20 menit. Setelah tiba, kami langsung
bergegas menuju tempat pemberhentian bis (jaryujang),
dan tepat seperti perkiraan bahwa busnya tidak ada. kami pun memilih taksi
untuk perjalan pulang. Namun ditunggu beberapa lama tak muncul-muncul. Kembali lagi
rasa takut itu. dan kahirnya kami menemukan taksi kosong.
Tiba dengan selamat didepan sevel. Kami pun berhenti sejenak
sembari nongkrong didepan sevel (seven
eleven). Sambil nostalgia masa SMP dan SMA, dan menikmati mobil yang lalu lalang dan
beranjak hingga waktu sahur tiba. Namun ternyata diluar rencana. Tiba-tiba
seorang lelaki paruh baya datang dengan senyum penuh arti. Wah artinya apa ini.
Entah apa yang diucapkannya , saya dan teman melanjutkan cerita dengan nada
saling mengkode. Lelaki itu tetap melanjutkan perkataannya dan saya pun
langsung beranjak dari tempat duduk dan segera masuk kedalam sevel dan berharap teman mengikuti ku. Namun
ternyata tidak, saya terpaksa keluar kembali untuk menyuruhnya masuk. Kami masuk,
namun ternyata lelaki itu tetap saja tak pergi dan beberapa menit kemudian
diapun menyusul kami. gila, twu bapak nekat
amat. Entah apa yang
diucapkannya, sayamenjawab “anniyo,
anniyo” (tidak-tidak). Lalu bapak itu pun pergi.
Fiuuuhh, akhirnya. Kami pun langsung bergegas pulang. Dan disinilah
kecerobohan saya terulang lagi. Saya tidak cleaning
lokasi. Paraagh, udah selalu diterapkan
diMAPALA tapi tetap saja lupa. Dan terungkaplah keesokkan harinya, dompet saya
hilang, beserta kartu-kartu saya. Syukur udah gk ada uangnnya, jika ada, bisa
gila, dan bisa-bisa cerita saya berikutnya “derita bulan Agustus” karena tidak
makan. Hahhahahahah
Menyalahkan diri sendiri, kenapa setelah tiba tidak langsung
pulang kerumah. Anak cewe gk baik lama-lama diluar rumah, apalagi malam. Jadi ingat pesan
MAMA,, huftt, miss u MOM, DAD
**
Dan kejadian itu terjadi lagi kamis malam (tadi malam). Saat lagi
nongkrong depan sevel tiba-tiba seorang lelaki paruh baya, dengan
lenggak-lenggok yang begitu gemulai (gila bancii mabuk,, hohooh) datang
menghampiri. Saya dan teman (lebih tepatnya kakak) saling menatap dan tetap
cool dong (tentunya) hanya tersenyum. Bersyukur lampu lalu lintas segera
berganti warna (warna hijau untuk pejalan kaki). Lelaki itu pun segera berlari
menyemberang. Namun beberapa saat kemudian kami pun melihat gelagaknya seperti
ingin menyemberang kembali. Tanpa berpikir panjang, kami langsung berlari.
**
Tapi perasaan ini langsung berubah. Naik ke puncak asrama. Dengan suasana yang Begitu tenang,
beratapkan langit dengan bintang yang saling berjarak. Dan saat itu, saya
bermimpi, bermimpi suatu saat nanti bisa berada ditempat yang tinggi, dengan
suasana yang tenang beratapkan langit cerah penuh bintang bersama “DIA”.. ^_^…
**
Demikian cerita saya. menjadi "dora the explorer" semalam. dengan tas ransel dan sebuah peta, berjalan dengan mantap.. (hehehehe) Semoga akan ada lagi
pengalaman-pengalaman berikutnya
**
saat rindu untuk bercerita pada mereka..
Korea
2 Juli 2013

0 comments: