“Kenapa malam ini panas sekali, padahal baru beberapa saat
yang lalu aku menyiram tubuh ku”, keluh ku sambil terus mengetik kata demi
kata. Tugas kali ini seakan membuat kami membuat sebuah cerita. Menyusun kata
demi kata untuk merangkai sebuah kalimat yang nantinya bisa menjadi sebuah
referensi. “kenapa harus sekarang sih?” sekali lagi keluhku terlontar. Tugas inilah
yang membuat seluruh mahasiswa angkatanku merasa sedikit jengkel. Disaat fakultas
lain sudah mulai berlibur, kami malah berkutat dengan praktek dan laporan. Ditambah
lagi deadline yang begitu mencekik.
“arghh, error lagi?”.
Praktek kali ini adalah bahasa pemograman. Dosennya begitu rajin , setidaknya
hanya butuh satu tangan untuk menghitung kehadirannya, sementara praktek kami
berhadapan dengan para asdos (asisten dosen) yang disiplinnya,, ampun daahh.
Aku berebah sejenak. Ku penjamkan mata ku, merehatkan sejenak mata yang sedari tadi bertatapan romantic dengan laptop. Tak kusadari, rembulan sedari tadi mengintip ku dari balik gorden.
“terang bulan”. Beranjak ku tegakkan badan ku, sungguh
cantik. Semakin lama semakin bergerak. Pandangan ku tertutupi oleh bangunan
tinggi ibukota. Ku melangkah keluar kamar menuju lantai balkon atas, berharap tak ada lagi bangun tinggi yang menghalanggi pandangan ku.
Tentu sajaa ku dapat melihat rembulan seluas mata memandang,
melihat kerlap-kerlip lampu kota. Kota yang begitu sibuk, bahkan saat malam,
saat seharusnya beristirahat, justru semakin ramai yang berlalu lalang. Kupandang
ke atas. Langit yang cerah ditemani oleh bintang. Dan tentunya, rembulan. Angin bertiup dengan lembut, membangkitkan sedikit bulu kuduk ku.Sungguh Malam yang tenang.
Semakin lama, mata ku terasa panas, hinggah tangan ku
seperti terkena rintik air.
**
“petikan gitarmu begitu indah, hinggah sekarang masih
terngiang ditelingaku. Mungkin kah malam ini kita seperti beberapa tahun yang
lalu. Bersama-sama menatap rembulan dibelahan bumi yang berbeda. kita bernyanyi
dengan bersama dengan alunan gitar sebagai pengiringnya.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujimu”
Akh, kenangan itu silih berganti seperti pemutaran video.
Suara kendaran seperti menjadi latar music yg romantic. Tidak sepantasnya aku
bersikap seperti itu. tak sepantasnya aku menuntut banyak seperti itu. malam
ini, kenangan itu hadir kembali. Tangis ku pecah dipangkuan malam
Argh, tak sepantasnya aku menagis seperti ini, saat rembulan
tersenyum manis padaku

0 comments: