skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
View my complete profile

Subscribe To

Posts
    Atom
Posts
Comments
    Atom
Comments

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ▼ August (3)
      • Rindu Rembulan
      • lagi-lagi tentang Dia
      • menjadi "DORA" semalam
    • ► July (10)

Followers

Pages

  • Home
  • Facebook

Sample text

About Us

Powered by Blogger.

Rindu Rembulan

1:25 PM - Posted by Unknown - 0 comments
“Kenapa malam ini panas sekali, padahal baru beberapa saat yang lalu aku menyiram tubuh ku”, keluh ku sambil terus mengetik kata demi kata. Tugas kali ini seakan membuat kami membuat sebuah cerita. Menyusun kata demi kata untuk merangkai sebuah kalimat yang nantinya bisa menjadi sebuah referensi. “kenapa harus sekarang sih?” sekali lagi keluhku terlontar. Tugas inilah yang membuat seluruh mahasiswa angkatanku merasa sedikit jengkel. Disaat fakultas lain sudah mulai berlibur, kami malah berkutat dengan praktek dan laporan. Ditambah lagi deadline yang begitu mencekik.

“arghh, error lagi?”. Praktek kali ini adalah bahasa pemograman. Dosennya begitu rajin , setidaknya hanya butuh satu tangan untuk menghitung kehadirannya, sementara praktek kami berhadapan dengan para asdos (asisten dosen) yang disiplinnya,, ampun daahh.

Aku berebah sejenak. Ku penjamkan mata ku, merehatkan sejenak mata yang sedari tadi bertatapan romantic dengan laptop. Tak kusadari, rembulan sedari tadi mengintip ku dari balik gorden.
“terang bulan”. Beranjak ku tegakkan badan ku, sungguh cantik. Semakin lama semakin bergerak. Pandangan ku tertutupi oleh bangunan tinggi ibukota. Ku melangkah keluar kamar menuju lantai balkon atas, berharap tak ada lagi bangun tinggi yang menghalanggi pandangan ku.

Tentu sajaa ku dapat melihat rembulan seluas mata memandang, melihat kerlap-kerlip lampu kota. Kota yang begitu sibuk, bahkan saat malam, saat seharusnya beristirahat, justru semakin ramai yang berlalu lalang. Kupandang ke atas. Langit yang cerah ditemani oleh bintang. Dan tentunya, rembulan. Angin bertiup dengan lembut, membangkitkan sedikit bulu kuduk ku.Sungguh  Malam yang tenang.

Semakin lama, mata ku terasa panas, hinggah tangan ku seperti terkena rintik air.
**
“petikan gitarmu begitu indah, hinggah sekarang masih terngiang ditelingaku. Mungkin kah malam ini kita seperti beberapa tahun yang lalu. Bersama-sama menatap rembulan dibelahan bumi yang berbeda. kita bernyanyi dengan bersama dengan alunan gitar sebagai pengiringnya.

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujimu”

Akh, kenangan itu silih berganti seperti  pemutaran video. Suara kendaran seperti menjadi latar music yg romantic. Tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu. tak sepantasnya aku menuntut banyak seperti itu. malam ini, kenangan itu hadir kembali. Tangis ku pecah dipangkuan malam


Argh, tak sepantasnya aku menagis seperti ini, saat rembulan tersenyum manis padaku





This entry was posted on 1:25 PM and is filed under cerpen . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ▼ August (3)
      • Rindu Rembulan
      • lagi-lagi tentang Dia
      • menjadi "DORA" semalam
    • ► July (10)

Popular Posts

  • Kagum atau Jatuh Cinta?
    Senior dan junior terkadang menjadi sebuah pembeda dan pembatas untuk saling beinteraksi. Tapi kisah kali ini sedikit beda. Dia bukan seper...
  • Jejak langkah ku
    Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Saya hanyalah seorang anak biasa dari keluarga biasa. 20 tahun yang lalu saya terlahir...
  • kenangan
    kerajaan ku mulai runtuh dermaga ku telah sunyi kapal mereka telah berlayar jauh, . dan jauh dan mungkin tak akan ada lagi yg akan ber...
  • Mawar Merah
    Tidur yang nyenyak. Bahkan sangat nyenyak. Kurentakkan tangan sepanjang-panjangnya sambil menghirup udara pagi yang masih begitu segar. Tib...
  • Senior dan Junior dalam sebuah Kisah
    Alhamdulillah, setelah empat tahun dengan status menjadi seorang mahasiswa, akhirnya tinggal menghitung hari saya akan kembali ketempat dim...
  • Hei Kau
    Hei kau,, Siapa aku bagimu Adakah arti lain bagi mu, Atau aku yang terlalu cepat membuat kesimpulan Hei kau,, Terkadang aku mer...
  • Aku
    ketika rasa tak bisa termaknai ragam kata pun terucap, membentuk bait-bait nada tak beraturan rendah -tinggi-rendah- ingin rasanya berb...
  • Dalam kesunyian malam
        Malam ini bukan merupakan kali pertama aku seperti ini, menangis dalam ketidaktahuan ku. Bukan menangis karena penyesalan yang berlebih...
  • Sang mantan
    Assalamu alaikum, apa kabar ni? Topic   kali ni apa ya? Nah lo, kok tiba-tiba teringat sang mantan. Ciee, yang belum lupain sang ma...
  • pergi untuk kembali
    Setelah 1032 jam kita berada didaratan yang sama, hari ini kita kembali dipisahkan oleh lautan yang bermil-mil jauhnya. Ini bukan sebua...

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ▼ August (3)
      • Rindu Rembulan
      • lagi-lagi tentang Dia
      • menjadi "DORA" semalam
    • ► July (10)

Labels

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Search

Etiquetas

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Coretan Pensil Warna-Warni

Wednesday, August 14, 2013

Rindu Rembulan

“Kenapa malam ini panas sekali, padahal baru beberapa saat yang lalu aku menyiram tubuh ku”, keluh ku sambil terus mengetik kata demi kata. Tugas kali ini seakan membuat kami membuat sebuah cerita. Menyusun kata demi kata untuk merangkai sebuah kalimat yang nantinya bisa menjadi sebuah referensi. “kenapa harus sekarang sih?” sekali lagi keluhku terlontar. Tugas inilah yang membuat seluruh mahasiswa angkatanku merasa sedikit jengkel. Disaat fakultas lain sudah mulai berlibur, kami malah berkutat dengan praktek dan laporan. Ditambah lagi deadline yang begitu mencekik.

“arghh, error lagi?”. Praktek kali ini adalah bahasa pemograman. Dosennya begitu rajin , setidaknya hanya butuh satu tangan untuk menghitung kehadirannya, sementara praktek kami berhadapan dengan para asdos (asisten dosen) yang disiplinnya,, ampun daahh.

Aku berebah sejenak. Ku penjamkan mata ku, merehatkan sejenak mata yang sedari tadi bertatapan romantic dengan laptop. Tak kusadari, rembulan sedari tadi mengintip ku dari balik gorden.
“terang bulan”. Beranjak ku tegakkan badan ku, sungguh cantik. Semakin lama semakin bergerak. Pandangan ku tertutupi oleh bangunan tinggi ibukota. Ku melangkah keluar kamar menuju lantai balkon atas, berharap tak ada lagi bangun tinggi yang menghalanggi pandangan ku.

Tentu sajaa ku dapat melihat rembulan seluas mata memandang, melihat kerlap-kerlip lampu kota. Kota yang begitu sibuk, bahkan saat malam, saat seharusnya beristirahat, justru semakin ramai yang berlalu lalang. Kupandang ke atas. Langit yang cerah ditemani oleh bintang. Dan tentunya, rembulan. Angin bertiup dengan lembut, membangkitkan sedikit bulu kuduk ku.Sungguh  Malam yang tenang.

Semakin lama, mata ku terasa panas, hinggah tangan ku seperti terkena rintik air.
**
“petikan gitarmu begitu indah, hinggah sekarang masih terngiang ditelingaku. Mungkin kah malam ini kita seperti beberapa tahun yang lalu. Bersama-sama menatap rembulan dibelahan bumi yang berbeda. kita bernyanyi dengan bersama dengan alunan gitar sebagai pengiringnya.

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujimu”

Akh, kenangan itu silih berganti seperti  pemutaran video. Suara kendaran seperti menjadi latar music yg romantic. Tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu. tak sepantasnya aku menuntut banyak seperti itu. malam ini, kenangan itu hadir kembali. Tangis ku pecah dipangkuan malam


Argh, tak sepantasnya aku menagis seperti ini, saat rembulan tersenyum manis padaku



Posted by Unknown at 1:25 PM
Labels: cerpen

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates