skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
View my complete profile

Subscribe To

Posts
    Atom
Posts
Comments
    Atom
Comments

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ▼ September (4)
      • surat kecil untuknya
      • kenangan
      • ketika pangeran menemukan putrinya
      • kisah terakhir "Tentang Dia"
    • ► August (3)
    • ► July (10)

Followers

Pages

  • Home
  • Facebook

Sample text

About Us

Powered by Blogger.

kisah terakhir "Tentang Dia"

8:26 AM - Posted by Unknown - 0 comments
kasih...
kau beri udara untuk nafasku
kau beri warna bagi kelabu jiwa ku
tak kala butiran hujan
mengusik impian semu
kau hadir disini dibatas kerinduan ku

"September ceria" menjadi lagu penyambutan minggu pertama saya dibulan September ini. Saya menyukai lagu tembang kenangan. Kata-katanya begitu indah, begitu tersirat maknanya. Dengan kata-kata romantic yang dibuat dengan begitu apik. Dan lagu ini menjadi lagu favorit saya.

Kasih . . .
Kau singkap tirai kabut dihatiku
Kau isi harapan baru untuk menyonsong
Harapan bersama
September ceria. . September ceria..
September ceria. .september ceria ..
Milik kita bersama

Lagu yang membuat saya terlena. Terhanyut dalam melodi yang seperti nya cocok menggambarkan sosok dia. Dan dibulan September ini. Ingin saya sempurnakan menjadi kisah “September Ceria”.  Namun sepertinya tidak seperti harapan . Sosok “dia “yang perlahan mulai menghilang. September yang entah akan terwujud atau tidak. September yang mungkin akan menjadi September terakhir.

Penyakit yang saya derita begitu semangat menggerogoti tubuh mungil saya. Hinggah tiap hari tak dibiarkannya untuk meninggalkan jejak langkah lebih jauh, walau hanya untuk berjalan beberapa meter. Dan terkadang
harus dituntun untuk menuju tempat tertentu. Tempat yang begitu membuat saya senang.  Tempat dimana saya bisa melihat murid taman kanak-kanak dengan segala kelakuannya. Tertawa, menangis, bermain, kejar-kejaran. Begitu menyenangkannya. Hidup tanpa beban dan tak merasa menjadi beban.  Tempat dimana saya bisa mengamati orang-orang yang lewat didepan rumah. Dan terutama mengamati dia.  dia yang telah saya kagumi  sejak kegiatan sekolah untuk siswa baru (baca http://aidyt.blogspot.kr/2013/07/tentang-sma-dan-dia.html)

namun keakraban yang telah dijalani, terkadang bagai gelombang air laut yang pasang dan surut. Namun dia tetap seperti sosok yang digambarkan pada lagu favorit saya “September ceria”. “Memberi warna bagi kelabu jiwa ku “. Namun akhir-akhir ini hanya surut yang terjadi. Pasang yang saya nantikan tak kunjung terjadi. Dan mungkin kali ini tak seperti hukum alam yang ketika surut pasti akan pasang. Mungkin akan pasang namun waktunya belum jelas terjadi kapan. Dan entah saat itu saya masih bisa menyaksikan atau tidak. Saya sadar dan tahu perasan itu hanya biasa. Tak lebih dari seorang teman, dan tak lebih seperti perasaan seorang kakak terhadap adik.

namun, semakin menuju pintu rumah abadi, saya semakin tersadar bahwa  memang seharusnya seperti ini. Saat jejak itu mulai pudar  Ingin mengejar mu dengan segala yang bisa saya lakukan. namun terlalu banyak alasan hingga semangat itu surut. Berbeda dengan dahulu yang begitu bersemangat memikirkan mu, bahkan memori otak ku mempunyai kapasitas besar untuk memikirkan mu.

Tak ada yang salah dalam situasi ini. Karena begitulah engkau dengan sifat mu. Sifat yang telah membuat saya menaruh hati. Namun begitu sulit memiliki mu. Begitu banyak wanita-wanita sempurna  yang menjadi saingan. Apalagi sekarang, seperti pesan terakhirmu sebelum akhirnya kabar mu surut kembali. “dia kembali lagi”. Jujur aku  sedih, patah hati, namun tenaga saya  sudah begitu lemah untuk memikirkan itu. dan sekarang yang menjadi pikiran saya saat ini adalah berusaha bangkit kembali, sebelum akhirnya saya tiba di pintu rumah keabadian. tujuan saya bukan lagi untuk mengejar hal itu, memuaskan perasaan hati yang bergejolak. Namun semata-mata untuk kedua orang tua dan adik-adik.  terkadang tubuh mungil ini harus dipaksa untuk melangkah sedikit jauh. dan dengan cara ini saya bisa berusaha melupakan perasaan bergejolak ini.

Saya tak ingin berusaha berusaha melupakan mu. Namun saya hanya ingin meninggalkan kesan baik untuk orang yang nantinya akan saya tinggalkan.
Dan sekarang, walaupun berat dan tersiksa. Rasa itu telah terkontrol dengan baik. Dan semua ini karena mu. . Terima kasih J


**
Dear diary,
Aku begitu menyukainya, hingga ketika kabarnya surut, yang lainnya pun ikut surut. terkadang untuk mengurangi rasa gejolak ini, surat yang ia kirimkan selalu kubaca berulang-ulang, walaupun terkadang hanya ucapan "hello". Namun sekarang energy untuk memikirkannya harus ku kurangi.

Diary,
Jika nantinya kembali pasang lagi, dan ketika saat itu aku sudah  . . . tolong katakana padanya. . . katakan, aku . . .
. .
. . .
aku
. . .
 . . .
Menyukainnya




Love
* * A *


This entry was posted on 8:26 AM and is filed under cerpen . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ▼ September (4)
      • surat kecil untuknya
      • kenangan
      • ketika pangeran menemukan putrinya
      • kisah terakhir "Tentang Dia"
    • ► August (3)
    • ► July (10)

Popular Posts

  • Kagum atau Jatuh Cinta?
    Senior dan junior terkadang menjadi sebuah pembeda dan pembatas untuk saling beinteraksi. Tapi kisah kali ini sedikit beda. Dia bukan seper...
  • Jejak langkah ku
    Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Saya hanyalah seorang anak biasa dari keluarga biasa. 20 tahun yang lalu saya terlahir...
  • kenangan
    kerajaan ku mulai runtuh dermaga ku telah sunyi kapal mereka telah berlayar jauh, . dan jauh dan mungkin tak akan ada lagi yg akan ber...
  • Mawar Merah
    Tidur yang nyenyak. Bahkan sangat nyenyak. Kurentakkan tangan sepanjang-panjangnya sambil menghirup udara pagi yang masih begitu segar. Tib...
  • Senior dan Junior dalam sebuah Kisah
    Alhamdulillah, setelah empat tahun dengan status menjadi seorang mahasiswa, akhirnya tinggal menghitung hari saya akan kembali ketempat dim...
  • Hei Kau
    Hei kau,, Siapa aku bagimu Adakah arti lain bagi mu, Atau aku yang terlalu cepat membuat kesimpulan Hei kau,, Terkadang aku mer...
  • Aku
    ketika rasa tak bisa termaknai ragam kata pun terucap, membentuk bait-bait nada tak beraturan rendah -tinggi-rendah- ingin rasanya berb...
  • Dalam kesunyian malam
        Malam ini bukan merupakan kali pertama aku seperti ini, menangis dalam ketidaktahuan ku. Bukan menangis karena penyesalan yang berlebih...
  • Sang mantan
    Assalamu alaikum, apa kabar ni? Topic   kali ni apa ya? Nah lo, kok tiba-tiba teringat sang mantan. Ciee, yang belum lupain sang ma...
  • pergi untuk kembali
    Setelah 1032 jam kita berada didaratan yang sama, hari ini kita kembali dipisahkan oleh lautan yang bermil-mil jauhnya. Ini bukan sebua...

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ▼ September (4)
      • surat kecil untuknya
      • kenangan
      • ketika pangeran menemukan putrinya
      • kisah terakhir "Tentang Dia"
    • ► August (3)
    • ► July (10)

Labels

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Search

Etiquetas

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Coretan Pensil Warna-Warni

Friday, September 13, 2013

kisah terakhir "Tentang Dia"

kasih...
kau beri udara untuk nafasku
kau beri warna bagi kelabu jiwa ku
tak kala butiran hujan
mengusik impian semu
kau hadir disini dibatas kerinduan ku

"September ceria" menjadi lagu penyambutan minggu pertama saya dibulan September ini. Saya menyukai lagu tembang kenangan. Kata-katanya begitu indah, begitu tersirat maknanya. Dengan kata-kata romantic yang dibuat dengan begitu apik. Dan lagu ini menjadi lagu favorit saya.

Kasih . . .
Kau singkap tirai kabut dihatiku
Kau isi harapan baru untuk menyonsong
Harapan bersama
September ceria. . September ceria..
September ceria. .september ceria ..
Milik kita bersama

Lagu yang membuat saya terlena. Terhanyut dalam melodi yang seperti nya cocok menggambarkan sosok dia. Dan dibulan September ini. Ingin saya sempurnakan menjadi kisah “September Ceria”.  Namun sepertinya tidak seperti harapan . Sosok “dia “yang perlahan mulai menghilang. September yang entah akan terwujud atau tidak. September yang mungkin akan menjadi September terakhir.

Penyakit yang saya derita begitu semangat menggerogoti tubuh mungil saya. Hinggah tiap hari tak dibiarkannya untuk meninggalkan jejak langkah lebih jauh, walau hanya untuk berjalan beberapa meter. Dan terkadang
harus dituntun untuk menuju tempat tertentu. Tempat yang begitu membuat saya senang.  Tempat dimana saya bisa melihat murid taman kanak-kanak dengan segala kelakuannya. Tertawa, menangis, bermain, kejar-kejaran. Begitu menyenangkannya. Hidup tanpa beban dan tak merasa menjadi beban.  Tempat dimana saya bisa mengamati orang-orang yang lewat didepan rumah. Dan terutama mengamati dia.  dia yang telah saya kagumi  sejak kegiatan sekolah untuk siswa baru (baca http://aidyt.blogspot.kr/2013/07/tentang-sma-dan-dia.html)

namun keakraban yang telah dijalani, terkadang bagai gelombang air laut yang pasang dan surut. Namun dia tetap seperti sosok yang digambarkan pada lagu favorit saya “September ceria”. “Memberi warna bagi kelabu jiwa ku “. Namun akhir-akhir ini hanya surut yang terjadi. Pasang yang saya nantikan tak kunjung terjadi. Dan mungkin kali ini tak seperti hukum alam yang ketika surut pasti akan pasang. Mungkin akan pasang namun waktunya belum jelas terjadi kapan. Dan entah saat itu saya masih bisa menyaksikan atau tidak. Saya sadar dan tahu perasan itu hanya biasa. Tak lebih dari seorang teman, dan tak lebih seperti perasaan seorang kakak terhadap adik.

namun, semakin menuju pintu rumah abadi, saya semakin tersadar bahwa  memang seharusnya seperti ini. Saat jejak itu mulai pudar  Ingin mengejar mu dengan segala yang bisa saya lakukan. namun terlalu banyak alasan hingga semangat itu surut. Berbeda dengan dahulu yang begitu bersemangat memikirkan mu, bahkan memori otak ku mempunyai kapasitas besar untuk memikirkan mu.

Tak ada yang salah dalam situasi ini. Karena begitulah engkau dengan sifat mu. Sifat yang telah membuat saya menaruh hati. Namun begitu sulit memiliki mu. Begitu banyak wanita-wanita sempurna  yang menjadi saingan. Apalagi sekarang, seperti pesan terakhirmu sebelum akhirnya kabar mu surut kembali. “dia kembali lagi”. Jujur aku  sedih, patah hati, namun tenaga saya  sudah begitu lemah untuk memikirkan itu. dan sekarang yang menjadi pikiran saya saat ini adalah berusaha bangkit kembali, sebelum akhirnya saya tiba di pintu rumah keabadian. tujuan saya bukan lagi untuk mengejar hal itu, memuaskan perasaan hati yang bergejolak. Namun semata-mata untuk kedua orang tua dan adik-adik.  terkadang tubuh mungil ini harus dipaksa untuk melangkah sedikit jauh. dan dengan cara ini saya bisa berusaha melupakan perasaan bergejolak ini.

Saya tak ingin berusaha berusaha melupakan mu. Namun saya hanya ingin meninggalkan kesan baik untuk orang yang nantinya akan saya tinggalkan.
Dan sekarang, walaupun berat dan tersiksa. Rasa itu telah terkontrol dengan baik. Dan semua ini karena mu. . Terima kasih J


**
Dear diary,
Aku begitu menyukainya, hingga ketika kabarnya surut, yang lainnya pun ikut surut. terkadang untuk mengurangi rasa gejolak ini, surat yang ia kirimkan selalu kubaca berulang-ulang, walaupun terkadang hanya ucapan "hello". Namun sekarang energy untuk memikirkannya harus ku kurangi.

Diary,
Jika nantinya kembali pasang lagi, dan ketika saat itu aku sudah  . . . tolong katakana padanya. . . katakan, aku . . .
. .
. . .
aku
. . .
 . . .
Menyukainnya




Love
* * A *
Posted by Unknown at 8:26 AM
Labels: cerpen

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates