kasih...
kau beri udara untuk nafasku
kau beri warna bagi kelabu jiwa ku
tak kala butiran hujan
mengusik impian semu
kau hadir disini dibatas kerinduan ku
"September ceria" menjadi lagu penyambutan minggu pertama
saya dibulan September ini. Saya menyukai lagu tembang kenangan. Kata-katanya
begitu indah, begitu tersirat maknanya. Dengan kata-kata romantic yang dibuat
dengan begitu apik. Dan lagu ini menjadi lagu favorit saya.
Kasih
. . .
Kau
singkap tirai kabut dihatiku
Kau
isi harapan baru untuk menyonsong
Harapan
bersama
September
ceria. . September ceria..
September
ceria. .september ceria ..
Milik
kita bersama
Lagu yang membuat saya terlena. Terhanyut
dalam melodi yang seperti nya cocok menggambarkan sosok dia. Dan dibulan September
ini. Ingin saya sempurnakan menjadi kisah “September Ceria”. Namun sepertinya tidak seperti harapan . Sosok
“dia “yang perlahan mulai menghilang. September yang entah akan terwujud atau
tidak. September yang mungkin akan menjadi September terakhir.
Penyakit yang saya derita begitu
semangat menggerogoti tubuh mungil saya. Hinggah tiap hari tak dibiarkannya
untuk meninggalkan jejak langkah lebih jauh, walau hanya untuk berjalan
beberapa meter. Dan terkadang
harus dituntun untuk menuju tempat tertentu.
Tempat yang begitu membuat saya senang. Tempat
dimana saya bisa melihat murid taman kanak-kanak dengan segala kelakuannya. Tertawa,
menangis, bermain, kejar-kejaran. Begitu menyenangkannya. Hidup tanpa beban dan
tak merasa menjadi beban. Tempat dimana
saya bisa mengamati orang-orang yang lewat didepan rumah. Dan terutama
mengamati dia. dia yang telah saya
kagumi sejak kegiatan sekolah untuk
siswa baru (baca http://aidyt.blogspot.kr/2013/07/tentang-sma-dan-dia.html)
namun keakraban yang telah dijalani,
terkadang bagai gelombang air laut yang pasang dan surut. Namun dia tetap
seperti sosok yang digambarkan pada lagu favorit saya “September ceria”. “Memberi warna bagi kelabu jiwa ku “. Namun
akhir-akhir ini hanya surut yang terjadi. Pasang yang saya nantikan tak kunjung
terjadi. Dan mungkin kali ini tak seperti hukum alam yang ketika surut pasti
akan pasang. Mungkin akan pasang namun waktunya belum jelas terjadi kapan. Dan entah
saat itu saya masih bisa menyaksikan atau tidak. Saya sadar dan tahu perasan
itu hanya biasa. Tak lebih dari seorang teman, dan tak lebih seperti perasaan
seorang kakak terhadap adik.
namun, semakin menuju pintu rumah abadi,
saya semakin tersadar bahwa memang
seharusnya seperti ini. Saat jejak itu mulai pudar Ingin mengejar mu dengan segala yang bisa saya
lakukan. namun terlalu banyak alasan hingga semangat itu surut. Berbeda dengan
dahulu yang begitu bersemangat memikirkan mu, bahkan memori otak ku mempunyai
kapasitas besar untuk memikirkan mu.
Tak ada yang salah dalam situasi ini. Karena
begitulah engkau dengan sifat mu. Sifat yang telah membuat saya menaruh hati. Namun
begitu sulit memiliki mu. Begitu banyak wanita-wanita sempurna yang menjadi saingan. Apalagi sekarang,
seperti pesan terakhirmu sebelum akhirnya kabar mu surut kembali. “dia kembali
lagi”. Jujur aku sedih, patah hati, namun
tenaga saya sudah begitu lemah untuk
memikirkan itu. dan sekarang yang menjadi pikiran saya saat ini adalah berusaha
bangkit kembali, sebelum akhirnya saya tiba di pintu rumah keabadian. tujuan
saya bukan lagi untuk mengejar hal itu, memuaskan perasaan hati yang
bergejolak. Namun semata-mata untuk kedua orang tua dan adik-adik. terkadang tubuh mungil ini harus dipaksa
untuk melangkah sedikit jauh. dan dengan cara ini saya bisa berusaha melupakan
perasaan bergejolak ini.
Saya tak ingin berusaha berusaha
melupakan mu. Namun saya hanya ingin meninggalkan kesan baik untuk orang yang
nantinya akan saya tinggalkan.
Dan sekarang, walaupun berat dan
tersiksa. Rasa itu telah terkontrol dengan baik. Dan semua ini karena mu. .
Terima kasih J
**
Dear diary,
Aku begitu menyukainya, hingga ketika
kabarnya surut, yang lainnya pun ikut surut. terkadang untuk mengurangi rasa
gejolak ini, surat yang ia kirimkan selalu kubaca berulang-ulang, walaupun
terkadang hanya ucapan "hello". Namun sekarang energy untuk memikirkannya harus
ku kurangi.
Diary,
Jika nantinya kembali pasang lagi, dan
ketika saat itu aku sudah . . . tolong katakana
padanya. . . katakan, aku . . .
. .
. . .
aku
. . .
. . .
Menyukainnya
Love
* * A *

0 comments: