Ketika aku kecil aku pernah menyukai seorang yang jauh dari umurku.
Kata orang itu adalah cinta monyet. Cinta anak kecil yang akan berubah seiring
berjalanannya waktu. Dan betul, semakin bertambahnya umur, semakin luasnya
pertemanan, rasa suka waktu kecil itu mulai berubah. Kata orang cinta monyet
itu berubah-ubah.
Beberapa bulan yang lalu aku genap berusia 25 tahun. Aku
menyebutnya masa remaja Tua. Masa dimana aku akan menuju masa pematangan jiwa
dan pikiran. Aku berpikir remaja karena terkadang pola pikirku yang masih
sedikit labil.
Dan sekarang, aku mencium ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah
perlakuan yang berbeda padaku. Atau mungkin hanya perasaan ku saja, yang kata
orang, perasaan wanita itu terlalu sensitive. Yang terkadang sebuah tatapan
saja bisa diartikan lain. Aku tak mau berharap banyak dari sikap itu.
Pengartian yang salah dan tidak sesuai yang diperkiraan itu terasa lebih sakit.
Aku tidak mau berharap banyak, seakan sedikit ada rasa cape dengan kisah asmara
ku selama ini. sehinggah rasa yang muncul pun sedikit saya abaikan.
Tapi ternyata waktu menjawab lain. Kebersamaan aku dan dia mulai diperhatikan orang. Semakin
lama semakin dipertanyakan. TIDAK, aku menganggapnya tak lebih dari seorang
adik. Seorang adik yang perlu dibimbing dengan nasihat. Ku akui, kehidupannya
lebih banyak mengajarkannya bagaimana cara bertahan. Aku hanya memberikannya
motivasi bagaimana cara berpikir seperti aku. Yang mungkin saja bisa diterapkan
pad acara berpikirnya.
Suatu hari, dia pernah melontarkan sebuah perkataan, yang menurutku
dia ingin menyatakan sesuatu padaku. Tapi aku tak ingin ada sebuah harapan dari
setiap jawaban yang ku lontarkan. Aku tak ingin ada sebuah pengharapan dari
diriku. Aku hanya ingin menjadi teman berbagi kisah, aku hanya ingin menjadi
kakak yang bisa membantunya dalam mengambil sebuah keputusan. TIDAK LEBIH.
Walaupun terkadang ada rasa kosong ketika tak mendengar kabarnya.
Karena aku merasa ada seseorang yang lebih baik yang Tuhan telah
siapkan untuknya. Seseorang yang sesuai dengan usahanya mengasa dirinya menjadi
lebih terasa. Aku tidak menghindar. Kubiarkan dia dengan perasaan fantasinya.
Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kedekatan ini. Jadilah dirimu sendiri,
menurut orang mungkin baik, namun belum tentu untuk kita baik. berjalanlah
sesuai dengan rencanamu, Tuhan tak pernah tidur saat mengawasi umatNya. Semoga Tuhan selalu bersama kita.. Amin
**
sebuah kisah yang terkisahkan
sebuah kisah yang terkisahkan
0 comments: