Kupikir, aku sudah bisa melupakan mu dan mengakhirinya di
awal tahun. Ternyata aku salah. Hinggah detik ini aku pun belum bisa melupakan
mu. Walaupun tidak seperti dahulu, namun tetap saja, kau masih termasuk dalam pikiran
ku.
Aku berpikir
mungkin rasa ini hanya sementara, ya seperti biasanya hanya lewat seperti iklan.
Lagi-lagi aku salah. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku pun sadar,
kehendak ini tidak mungkin dipaksakan. Aku pun juga sadar, ada orang lain yang mungkin
sedang kau pikirkan dan aku pun tidak punya hak untuk mengetahuinya.
Sudah beberapa
hari pikiran ku sedikit dikacaukan. Bahkan terbawa hinggah terlelap. Wajah mu
memang tak hadir dalam drama dipulau kapuk itu, tapi aku tau persis bahwa
kaulah yang diceritakan dalam drama itu. namun segera aku tepis, mungkin ini
karena sebelum berajak berlayar ke pulau kapuk aku sedikit usil dengan membuka
surat-surat kecil dikoran berita harian. Dan tak kusangka ada berita tentang
mu. Sebuah cerita kecil yang membuatku tertegun. Ya, aku menangkap sesuatu.
Dan tangkapan
itulah yang membuat ku tak nyaman akhir-akhir ini. aku hanya berharap aktivitas
yang telah terjadwal rapi dibuku bersampul ungu ini bisa mebuatku sedikit
melupakan hal ini. bahkan melupakan sosok mu. Ya, aku sudah lelah dengan
perasaan tak jelas ini. Aku tak mengatakan bahwa perasaan ini bertepuk sebelah
tangan atau cinta ku tak berbalas, atau apalah julukan yang orang lain berikan.
Karena memang perasaan ini hanya aku yang tau, bahkan kau pun tak tau. Yaa, tak
ada yang tau. Perasaan yang kusimpan rapi dalam lembaran-lembaran diary.
Kemarin, dan hari
ini. Ku harap hanya sampai hari ini, tidak esok atau lusa. Dan jika esok adalah
saaat kita ditakdirkan untuk bertemu walaupun aku pun tak yakin akan hal itu,
tenanglah, tak akan ku rusak pertemuan itu dengan cerita konyol ini.
0 comments: