Alhamdulillah,
setelah empat tahun dengan status menjadi seorang mahasiswa, akhirnya tinggal
menghitung hari saya akan kembali ketempat dimana saya berasal. Walaupun kemana
langkah akan berjalan belum sepenuhnya terpikirkan, namun dengan tekad yang
hampir bulat saya akan pulang. Jika kemudian saya akan mendapatkan pekerjaan
segera, berarti kepulangan ini untuk meminta doa restu kepada keluarga dan
sanak family agar segala sesuatunya akan berjalan dengan lancar, dan
selalu mendapat kemudahan dimana kaki berpijak.
Malam
ini saya harus segera menyelesaikan laporan yang beberapa hari lagi harus
dilaporkan. Hanya
sedikit laporan, namun cukup sulit menyusun kata demi kata untuk menjadi sebuah kalimat yang mewakili apa yang saya rasakan selama menjabat. Perhatian beralih kedokumen gambar yang tersimpan, mungkin saja bisa membantu mendapatkan inspirasi dalam menyusun kalimat. Namun, ada sedikit perasaan aneh yang muncul. Entahlah saya pun tidak begitu yakin.
sedikit laporan, namun cukup sulit menyusun kata demi kata untuk menjadi sebuah kalimat yang mewakili apa yang saya rasakan selama menjabat. Perhatian beralih kedokumen gambar yang tersimpan, mungkin saja bisa membantu mendapatkan inspirasi dalam menyusun kalimat. Namun, ada sedikit perasaan aneh yang muncul. Entahlah saya pun tidak begitu yakin.
**
23
Januari 2014, setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya tiba dengan
selamat. Kembali bertemu dengan teman-teman seperantauan. Kembali dengan
aktifitas seperti 2 tahun sebelumnya. Dan berkenalan dengan adik-adik baru yang
mencoba keberuntungan dengan mengikuti jejak kakak-kakaknya yang sudah lebih
dulu berlayar. Saya senang, ternyata ada banyak
yang sedaerah dengan saya. Dan tak terduga ternyata sebuah lembaga
tempat saya mengabdi ada seorang adik yang sedaerah dengan saya. Cukup senang.
Ya, karena faktor usia, naluri sebagai seorang kakak pun muncul. Mungkin karena
saya sudah tanamkan dalam pemikiran saya, bahwa ketika dalam perhitungan
kalender saya yang terlebih dahulu berkenalan dengan bumi, maka saya pun
memberi gelar “kakak” untuk diri saya sendiri.
Hari
berlalu, kami pun berjalan layaknya seorang senior dan juniornya, seorang kaka
dengan adiknya. Hingga akhirnya kami menjadi dekat. Dan menjadi lebih dekat.
Saya pun menganggap bahwa hal ini biasa. Bukannya memberi perhatian kepada adik
itu wajar? Tidak salah kan?
Namun,
ternyata saya muali seikit keliru. Kita tidak memiliki hubungan darah,
berkenalan pun di negeri orang. Orang lain pun, ketika diberi perhatian terus
menerus akan merasa nyaman dan bisa jadi salah mengartikan. Dan itu akhirnya
terjadi pada saya. Hati orang tak ada yang tahu. Saya memang berniat untuk
menjadi seorang kaka baginya. Melihat potensi yang dimilikinya sepertinya
memang harus diberi motivasi dan dukungan. Tak jarang saya pun berbagi kisah
tentang apa yang telah saya lalui yang mungkin bisa diambil pelajaran dari
kisah saya. Dan inilah yang membuat semakin dekat.
Awal
kedekatan, saya masih menganggap ini hal biasa. Namun teman-teman mulai sedikit
berceloteh tentang kedekatan ini. saya pun hanya menerima, dan larut dalam
setiap lirik yang didendangkan. Hingga akhirnya saya semakin sadar, bahwa
kedekatan ini tidak hanya sekedar hubungan senior dan junior, hubungan antara
kakak dan adik. Perasaan perempuan terlalu peka, tentu tidak terkecuali saya.
Saya berusaha untuk bersikap biasa, bahwa kedekatan ini hanya seperti adik dan
kakak walaupun sudah mulai tampak dan beberapa orang mulai sedikit curiga.
Jujur,
saya sedikit trauma dengan suatu hubungan dengan status pacaran. Dan saya mulai
nyaman dengan status untuk menjadi single hingga pangeran berkuda datang ke
istana ku dan meminta pada ayahanda untuk menjadikan ku sebagai ratu d iistananya.
Sungguh dongeng yang sangat indah jika dibayangkan. Dan pengungkapan itu pun
terjadi. Apa yang dikatakan oleh teman-teman tepat. Apa yang saya harus saya
lakukan? Berlarikah? Menjauh kah? Menghindarkah? Tidak? Tidak bisa? Tunggu,
atau saya yang membuatnya tidak bisa? Masihkah ada niatan seperti awal yang
ingin membimbing adiknya untuk bisa menemukan jati dirinya? Tanpa saya sadari saya mulai nyaman
bersamanya. Terkadang jika tak melihat atau mendengar kabarnya ada sedikit rasa
kekhawatiran.
Malam
ini, saya memutar kembali kenangan bersama lembaga saya. melihat apa yang
terjadi hari ini, banyak yang sudah terjadi padanya. Dia sudah tumbuh menjadi
seorang yang dewasa. Dan saya mulai bingung dengan perasaan saya. Dahulu saya melihatnya sebagai adik yang
polos, yang masih butuh bimbingan. Namun sekarang saya mulai melihatnya sebagai
seorang pria yang mulai dewasa, yang mulai membangun dan menyiapkan diri
menjadi pria mapan yang siap membangun sebuah rumah tangga, dan entah dengan
siapa wanita yang beruntung itu.
Tulisan
ini mungkin akan memakan waktu lama untuk terbaca olehnya, atau bahkan tak
pernah sampai padanya. Jika, suatu saat nanti tulisan ini terbaca olehnya dan telah
ada seorang putri bersamanya. “Ketahuilah bahwa saya senang bisa mendapat
perhatian darimu dan sempat berkhayal bahwa jari manis ini memang akan memakai
cincin yang terukur dari jari kelingking mu.”
**
Sebuah
Kisah dari kisah yang terkisahkan

0 comments: