skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
View my complete profile

Subscribe To

Posts
    Atom
Posts
Comments
    Atom
Comments

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ▼ 2015 (5)
    • ▼ October (2)
      • Hei Kau
      • Senior dan Junior dalam sebuah Kisah
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ► 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ► August (3)
    • ► July (10)

Followers

Pages

  • Home
  • Facebook

Sample text

About Us

Powered by Blogger.

Senior dan Junior dalam sebuah Kisah

7:28 PM - Posted by Unknown - 0 comments
Alhamdulillah, setelah empat tahun dengan status menjadi seorang mahasiswa, akhirnya tinggal menghitung hari saya akan kembali ketempat dimana saya berasal. Walaupun kemana langkah akan berjalan belum sepenuhnya terpikirkan, namun dengan tekad yang hampir bulat saya akan pulang. Jika kemudian saya akan mendapatkan pekerjaan segera, berarti kepulangan ini untuk meminta doa restu kepada keluarga dan sanak family agar segala sesuatunya akan berjalan dengan lancar, dan selalu mendapat kemudahan dimana kaki berpijak.

Malam ini saya harus segera menyelesaikan laporan yang beberapa hari lagi harus dilaporkan. Hanya
sedikit laporan, namun cukup sulit menyusun kata demi kata untuk menjadi sebuah kalimat yang mewakili apa yang saya rasakan selama menjabat. Perhatian beralih kedokumen gambar yang tersimpan, mungkin saja bisa membantu mendapatkan inspirasi dalam menyusun kalimat. Namun, ada sedikit perasaan aneh yang muncul. Entahlah saya pun tidak begitu yakin. 

**
23 Januari 2014, setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya tiba dengan selamat. Kembali bertemu dengan teman-teman seperantauan. Kembali dengan aktifitas seperti 2 tahun sebelumnya. Dan berkenalan dengan adik-adik baru yang mencoba keberuntungan dengan mengikuti jejak kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu berlayar. Saya senang, ternyata ada banyak  yang sedaerah dengan saya. Dan tak terduga ternyata sebuah lembaga tempat saya mengabdi ada seorang adik yang sedaerah dengan saya. Cukup senang. Ya, karena faktor usia, naluri sebagai seorang kakak pun muncul. Mungkin karena saya sudah tanamkan dalam pemikiran saya, bahwa ketika dalam perhitungan kalender saya yang terlebih dahulu berkenalan dengan bumi, maka saya pun memberi gelar “kakak” untuk diri saya sendiri.
Hari berlalu, kami pun berjalan layaknya seorang senior dan juniornya, seorang kaka dengan adiknya. Hingga akhirnya kami menjadi dekat. Dan menjadi lebih dekat. Saya pun menganggap bahwa hal ini biasa. Bukannya memberi perhatian kepada adik itu wajar? Tidak salah kan?

Namun, ternyata saya muali seikit keliru. Kita tidak memiliki hubungan darah, berkenalan pun di negeri orang. Orang lain pun, ketika diberi perhatian terus menerus akan merasa nyaman dan bisa jadi salah mengartikan. Dan itu akhirnya terjadi pada saya. Hati orang tak ada yang tahu. Saya memang berniat untuk menjadi seorang kaka baginya. Melihat potensi yang dimilikinya sepertinya memang harus diberi motivasi dan dukungan. Tak jarang saya pun berbagi kisah tentang apa yang telah saya lalui yang mungkin bisa diambil pelajaran dari kisah saya. Dan inilah yang membuat semakin dekat.

Awal kedekatan, saya masih menganggap ini hal biasa. Namun teman-teman mulai sedikit berceloteh tentang kedekatan ini. saya pun hanya menerima, dan larut dalam setiap lirik yang didendangkan. Hingga akhirnya saya semakin sadar, bahwa kedekatan ini tidak hanya sekedar hubungan senior dan junior, hubungan antara kakak dan adik. Perasaan perempuan terlalu peka, tentu tidak terkecuali saya. Saya berusaha untuk bersikap biasa, bahwa kedekatan ini hanya seperti adik dan kakak walaupun sudah mulai tampak dan beberapa orang mulai sedikit curiga.

Jujur, saya sedikit trauma dengan suatu hubungan dengan status pacaran. Dan saya mulai nyaman dengan status untuk menjadi single hingga pangeran berkuda datang ke istana ku dan meminta pada ayahanda untuk menjadikan ku sebagai ratu d iistananya. Sungguh dongeng yang sangat indah jika dibayangkan. Dan pengungkapan itu pun terjadi. Apa yang dikatakan oleh teman-teman tepat. Apa yang saya harus saya lakukan? Berlarikah? Menjauh kah? Menghindarkah? Tidak? Tidak bisa? Tunggu, atau saya yang membuatnya tidak bisa? Masihkah ada niatan seperti awal yang ingin membimbing adiknya untuk bisa menemukan jati dirinya?  Tanpa saya sadari saya mulai nyaman bersamanya. Terkadang jika tak melihat atau mendengar kabarnya ada sedikit rasa kekhawatiran.

Malam ini, saya memutar kembali kenangan bersama lembaga saya. melihat apa yang terjadi hari ini, banyak yang sudah terjadi padanya. Dia sudah tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Dan saya mulai bingung dengan perasaan saya.  Dahulu saya melihatnya sebagai adik yang polos, yang masih butuh bimbingan. Namun sekarang saya mulai melihatnya sebagai seorang pria yang mulai dewasa, yang mulai membangun dan menyiapkan diri menjadi pria mapan yang siap membangun sebuah rumah tangga, dan entah dengan siapa wanita yang beruntung itu.

Tulisan ini mungkin akan memakan waktu lama untuk terbaca olehnya, atau bahkan tak pernah sampai padanya. Jika, suatu saat nanti tulisan ini terbaca olehnya dan telah ada seorang putri bersamanya. “Ketahuilah bahwa saya senang bisa mendapat perhatian darimu dan sempat berkhayal bahwa jari manis ini memang akan memakai cincin yang terukur dari jari kelingking mu.”

**

Sebuah Kisah dari kisah yang terkisahkan



This entry was posted on 7:28 PM and is filed under curcol , tentang dia . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ▼ 2015 (5)
    • ▼ October (2)
      • Hei Kau
      • Senior dan Junior dalam sebuah Kisah
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ► 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ► August (3)
    • ► July (10)

Popular Posts

  • berlayar
    Entah apa namanya, saat rasa ini berkecambuk dijiwa. Terkadang saya bingung, ada apa dengan saya? Apa yang terjadi? Apa yang ingin saya lak...
  • Cinta Monyet
    Ketika aku kecil aku pernah menyukai seorang yang jauh dari umurku. Kata orang itu adalah cinta monyet. Cinta anak kecil yang akan berubah ...
  • Tuhan, Ampuni rasa ini
    Tuhan, Engkau jelas mengetahui rasa ini bahkan lebih tahu dari akal sehat ku sendri Tuhan, rasa ini begitu sulit kujabarkan dan terkad...
  • Rindu
    Malam, ketika surat ini tak sampai ketangannya biarkan rasa ini tersimpan tersimpan rapat bersama surat ini cukup malam ini yang menjadi...
  • Kagum atau Jatuh Cinta?
    Senior dan junior terkadang menjadi sebuah pembeda dan pembatas untuk saling beinteraksi. Tapi kisah kali ini sedikit beda. Dia bukan seper...
  • masih sama !
    Kupikir, aku  sudah bisa melupakan mu dan mengakhirinya di awal tahun. Ternyata aku salah. Hinggah detik ini aku pun belum bisa melupakan m...
  • tentang SMA dan Dia
    Semua orang pasti punya cerita cinta monyet, cinta waktu SMP, cinta SMA atau cinta-cinta yang lain. Dan ini ada sebuah cerita cinta waktu S...
  • Akhir cerita fantasi Disneyland
    Snow white and seven drawfs, Cinderella, beauty and the beast, sleeping beauty dan lain-lain . Siapa yang tidak mengenal ceritanya? Cerit...
  • Kenapa Lagi???
    Dan untuk kesekian kalinya. Aku kangen kamu bodohh.. hahhaaahah,, dan entah untuk yang keberapa kalinya janji yang terucap diingkari...
  • menjadi "DORA" semalam
    Huaamm,, Selamat pagi dunia. Upss sebenarnya gk lagi pagi denk. Mentari udah terlalu lama berjalan menuju puncak. Jadi saya ganti ya. SELA...

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ▼ 2015 (5)
    • ▼ October (2)
      • Hei Kau
      • Senior dan Junior dalam sebuah Kisah
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ► 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ► August (3)
    • ► July (10)

Labels

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Search

Etiquetas

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Coretan Pensil Warna-Warni

Monday, October 26, 2015

Senior dan Junior dalam sebuah Kisah

Alhamdulillah, setelah empat tahun dengan status menjadi seorang mahasiswa, akhirnya tinggal menghitung hari saya akan kembali ketempat dimana saya berasal. Walaupun kemana langkah akan berjalan belum sepenuhnya terpikirkan, namun dengan tekad yang hampir bulat saya akan pulang. Jika kemudian saya akan mendapatkan pekerjaan segera, berarti kepulangan ini untuk meminta doa restu kepada keluarga dan sanak family agar segala sesuatunya akan berjalan dengan lancar, dan selalu mendapat kemudahan dimana kaki berpijak.

Malam ini saya harus segera menyelesaikan laporan yang beberapa hari lagi harus dilaporkan. Hanya
sedikit laporan, namun cukup sulit menyusun kata demi kata untuk menjadi sebuah kalimat yang mewakili apa yang saya rasakan selama menjabat. Perhatian beralih kedokumen gambar yang tersimpan, mungkin saja bisa membantu mendapatkan inspirasi dalam menyusun kalimat. Namun, ada sedikit perasaan aneh yang muncul. Entahlah saya pun tidak begitu yakin. 

**
23 Januari 2014, setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya tiba dengan selamat. Kembali bertemu dengan teman-teman seperantauan. Kembali dengan aktifitas seperti 2 tahun sebelumnya. Dan berkenalan dengan adik-adik baru yang mencoba keberuntungan dengan mengikuti jejak kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu berlayar. Saya senang, ternyata ada banyak  yang sedaerah dengan saya. Dan tak terduga ternyata sebuah lembaga tempat saya mengabdi ada seorang adik yang sedaerah dengan saya. Cukup senang. Ya, karena faktor usia, naluri sebagai seorang kakak pun muncul. Mungkin karena saya sudah tanamkan dalam pemikiran saya, bahwa ketika dalam perhitungan kalender saya yang terlebih dahulu berkenalan dengan bumi, maka saya pun memberi gelar “kakak” untuk diri saya sendiri.
Hari berlalu, kami pun berjalan layaknya seorang senior dan juniornya, seorang kaka dengan adiknya. Hingga akhirnya kami menjadi dekat. Dan menjadi lebih dekat. Saya pun menganggap bahwa hal ini biasa. Bukannya memberi perhatian kepada adik itu wajar? Tidak salah kan?

Namun, ternyata saya muali seikit keliru. Kita tidak memiliki hubungan darah, berkenalan pun di negeri orang. Orang lain pun, ketika diberi perhatian terus menerus akan merasa nyaman dan bisa jadi salah mengartikan. Dan itu akhirnya terjadi pada saya. Hati orang tak ada yang tahu. Saya memang berniat untuk menjadi seorang kaka baginya. Melihat potensi yang dimilikinya sepertinya memang harus diberi motivasi dan dukungan. Tak jarang saya pun berbagi kisah tentang apa yang telah saya lalui yang mungkin bisa diambil pelajaran dari kisah saya. Dan inilah yang membuat semakin dekat.

Awal kedekatan, saya masih menganggap ini hal biasa. Namun teman-teman mulai sedikit berceloteh tentang kedekatan ini. saya pun hanya menerima, dan larut dalam setiap lirik yang didendangkan. Hingga akhirnya saya semakin sadar, bahwa kedekatan ini tidak hanya sekedar hubungan senior dan junior, hubungan antara kakak dan adik. Perasaan perempuan terlalu peka, tentu tidak terkecuali saya. Saya berusaha untuk bersikap biasa, bahwa kedekatan ini hanya seperti adik dan kakak walaupun sudah mulai tampak dan beberapa orang mulai sedikit curiga.

Jujur, saya sedikit trauma dengan suatu hubungan dengan status pacaran. Dan saya mulai nyaman dengan status untuk menjadi single hingga pangeran berkuda datang ke istana ku dan meminta pada ayahanda untuk menjadikan ku sebagai ratu d iistananya. Sungguh dongeng yang sangat indah jika dibayangkan. Dan pengungkapan itu pun terjadi. Apa yang dikatakan oleh teman-teman tepat. Apa yang saya harus saya lakukan? Berlarikah? Menjauh kah? Menghindarkah? Tidak? Tidak bisa? Tunggu, atau saya yang membuatnya tidak bisa? Masihkah ada niatan seperti awal yang ingin membimbing adiknya untuk bisa menemukan jati dirinya?  Tanpa saya sadari saya mulai nyaman bersamanya. Terkadang jika tak melihat atau mendengar kabarnya ada sedikit rasa kekhawatiran.

Malam ini, saya memutar kembali kenangan bersama lembaga saya. melihat apa yang terjadi hari ini, banyak yang sudah terjadi padanya. Dia sudah tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Dan saya mulai bingung dengan perasaan saya.  Dahulu saya melihatnya sebagai adik yang polos, yang masih butuh bimbingan. Namun sekarang saya mulai melihatnya sebagai seorang pria yang mulai dewasa, yang mulai membangun dan menyiapkan diri menjadi pria mapan yang siap membangun sebuah rumah tangga, dan entah dengan siapa wanita yang beruntung itu.

Tulisan ini mungkin akan memakan waktu lama untuk terbaca olehnya, atau bahkan tak pernah sampai padanya. Jika, suatu saat nanti tulisan ini terbaca olehnya dan telah ada seorang putri bersamanya. “Ketahuilah bahwa saya senang bisa mendapat perhatian darimu dan sempat berkhayal bahwa jari manis ini memang akan memakai cincin yang terukur dari jari kelingking mu.”

**

Sebuah Kisah dari kisah yang terkisahkan

Posted by Unknown at 7:28 PM
Labels: curcol, tentang dia

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates