Sedikit cerita mungkin lebih tepatnya adalah curahatan hati. Wah
curhat ya.? Pasti pada berpikir mau curhat tentang asmara, atau tentang pacar
yang menghilang, atau mungkin karena sudah putus. SALAH.
Kali ini saya mau curhat tentang “KERINDUAN SEORANG KAKAK”. Yang
baca jangan nangis ya. Hehehe. Gk kok gk sesedih itu.
Saya mulai dari beberapa abad yang lalu.waduh lama
amat.begini ceritanya
Dulu mungkin saya dianggap
sebagai monster bagi adik-adik saya. Nah loh, kok bisa. Bisa aja kalau kakak
yang kerjaannya hanya marah-marah, suruh ini suruh itu, bertingkah seperti
penguasa. Gk nyangkah kalau saya setegah itu. eits, jangan berpikiran kalu saya
seperti tokoh bawang merah ya. Tidak sejahat itu kok. Mungkin pengaruh karena
belum tahu bagaimana menjadi seorang kakak itu. nah ini bisa menjadi pelajaran
buat juga yang nantinya akan
berkeluarga, dan memiliki anak lebih dari satu, apalagi dengan jarak yang tidak
begitu jauh (hehehe, sok menasihati). alangkah indahnya jika telah dijelaskan sejak
awal bagaimana peran menjadi seorang kakak nantinya. Kan kasihan tiba-tiba ada
boneka hidup disamping ibu. Wah kapan
belinya? Jadi teringat waktu saya
memiliki adik pertama. Kan tahulah bagaimana penasarannya seorang anak kecil,
dan selalu ingin mendapatkan penjelasan dengan segera. Bertanya –tanya tanpa
henti. Nah, saya kan heran twu. Boneka darimana ni, cakep (puji adik sendiri,,hhehehe).
Mungkin karena saya banyak tanya, ya sudah dijawablah “beli di TOSERBA (Toko
Serba Ada)”. Ya udah saya terima aja. Nah, tiba-tiba ada kebakaran hebat dan
ternyata itu adalah TOSERBA tempat dimana adik saya dibeli. Dan terpikirlah
oleh saya, “kasihan ade-adenya terbakar semua” sambil menyapu dada.. hahahah
lucu sekali, begitu lugu dan polosnya.
Nah, proses pengenalan kakak bisa dimulai dari sini nhi,
bahkan jika perlu masih didalam kandungan. Dijelaskan aja bagaimana bayi itu
bisa terlahir. Tapi tentu dan pastinya dengan kata-kata anak kecil yang mudah
dimengerti. Kok jadi ceramah (hihhihhi)
Namun, sifat yang saya ceritakan diatas semakin
berkurang(menurut saya sih) setelah adik saya yang ke-3 lahir. Dan pada saat
itulah proses pembentukan karakter saya dibentuk (serius amat). Memiliki ibu
yang kerja dikantoran pasti ada suka dukanya. Terlahir menjadi anak pertama
dari empat bersaudara merupakan anugerah terindah (cie puitis amat). Saya memiliki
adik ketiga diusia 12 tahun (SMP kelas
1). Dan sinilah awal saya merasakan bagaimana suka dan dukanya menjadi
seorang kaka dengan adik yang masih bayi. Bisa merasakan bagaimana repotnya
menjadi ibu. Mama sudah masuk kerja minggu kedua pasca melahirkan. Begitu sibuknya,
walaupun sebenarnya masih dalam masa cuti. Sedikit bisa membantu karena, jadwal
sekolah siang jadi bisa menjadi pengasuh
dipagi hari. Suka duka pasti ada.
mungkin saya mulai dari duka.
Usia 12 tahun
adalah usia yang memang masih pengen main, kumpul bareng teman-teman. saya
masih dapatkan itu kok, kumpul bareng teman, tapi ada bedanya. Saya harus
menyertakan dengan adik saya. Sampai-sampai teman saya mengatakan “dita, udah
kayak ibu-ibu aja kemana-mana bawa anak”. bagaimana tidak, masih kumpul harus
terpaksa pulang karena adik udah rewel, ngantuk, lapar, pipis, atau ‘ee’. Sebenarnya
ada nenek sih yang nungguin adik. Tapi bagaimana lagi, tidak mungkin tegah
melihat nenek harus berjalan keluar mencari angin ditengah siang yang panas
karna adik nangis kegerahan. atau adik
yang pengen digendong keliling kampung. Pasti gk tegalah. Namun, saya bersyukur
merasakan hal yang seperti ini. Merasakan bagaimana peran seorang ibu. Ketika ibu
sedang makan, terpaksa harus ditinggalkan karena anaknya pipis atau mungkin
sedang buang air besar. Harus menunda
tidur karena sianak rewel. Dengan menahan rasa lelahnya harus menggendong. Ibu yang
tak pernah lelah siang dan malam. Bahkan tidak tdur semalaman karena sianak
sakit. Saya hanya merasakan sedikit dari peran ibu, itupun sudah dengan rasa
sebal. Sedangkan mereka, tak pernah lelah. Sungguh berdosa jiwa kecil ini yang
selalu membantah, entah kesalahan apalagi yang telah dibuat. . (sedih)
Lanjut yaa
Namun ada duka pasti ada sukakan. Dan hal yang paling saya
tunggu-tunggu adalah saat saya ikut mama keposyandu. Aduh itu bahagia sekali. Udah
kayak mama-mama yang bawa anaknya keposyandu, melihat adik ditimbang, diberi
imunisasi. Bahagia banget bisa liat ibu-bu yang lain dengan bayinya. Melihat perkembangan
adik merupakan kebahagian tersendri. Apalagi ibu ya. Yang udah menganndung dan
melahirkan. Kenangan yang indah sekali. . bersyukur diberi kesempatan itu,
kesempatan merasakan sedikit peran seorang ibu. Walaupun hanya sedikit dan
sebentar. Terima kasih kepercayaannya ma, pa, nenek. Walaupun kadang dimarahi
karena kelalaian sampe adik terjatuh dari sepeda. (sadis)
Sekarang adik ku udah besar.
Ricky Rahmat syafaat (17 tahun) adik pertama.
Masih teringat waktu
umurku sekitar 3 tahun dan dia berumur satu tahun. Kita sedang bermain-main
dengan alat tulis. Saat aku mulai menggambar tokoh-tokoh imajinasi. Dengan percaya
diri kutanyakan apa yang dia inginkan lalu kugambar dengan lincah. Namun tertawa
sendiri ketika melihat buku itu kembali dengan coretan-coretan panjang entah
berbentuk apa yang sangat berbeda jauh tokoh cerita yang diminta adik.Yunita Rahma yanti (15 tahun) adik kedua.
Teringat saat kabur dari adik dalam keadaan menangis. Kabur karena tidak ingin dia mengikutiku berjalan-jalan.
Gengsi ku masih besar saat itu, hingga ego ku masih mengalahkan tangisan kerasa
seorang anak kecil.
Meysi Rahmi Yanti(8 tahun) adik ketiga
. Adik yang memberikan ku pengalaman menjadi
seorang ibu. Walaupun hanya sementara. Teringat saat seorang lelaki yang
menyukaiku karena melihat ku saat sedang mengendong seorang anak. Walaupun tak
pernah bertemu dengan orang itu, terima kasih sudah mengisi buku catatan perjalan
hidupku.
Terimah kasih untuk setiap foto bahagianya, terima kasih foto
ultahnya. Terima kasih cerita-ceritanya yang membuat saya selalu tertawa
sendiri. Terima kasih untuk setiap kabar gembira yang kalian kabarkan padaku. Terima
kasih untuk supportnya.Terima kasih.
Aku bahagia menjadi seorang kakak untuk kalian. Aku menyukai
peran ini dan aku bersyukur mendapat peran ini. Aku rindu pada kalian. jarak
memang begitu jauh, tapi bukan berarti menjadi jauh karena jarak. Dan mungkin memang harus ada jarak, untuk
menciptkan kerinduan dan rasa sayang yang lebih.
“Pesan dari saya. Umur tidak
ada yang tahu. Selagi masih ada kesempatan yuk kita buat mama papa bahagia,
kita ukir senyum indah dibibir mama papa. “
I MISS U SO MUCH.
**
Catatan pagi menjelang siang, dengan kerinduan besar pada mereka
. .
Korea
Minggu, 28 juli 2013





0 comments: