skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
View my complete profile

Subscribe To

Posts
    Atom
Posts
Comments
    Atom
Comments

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ► August (3)
    • ▼ July (10)
      • Mengapa
      • Kenangan dan Kerinduan
      • Kado indah dari ALLAH
      • Kau dan Marah mu
      • berlayar
      • Ada apa?
      • Kau dan Cuek mu
      • tentang SMA dan Dia
      • Ramadhan mba Toyib?
      • sederhana dan semoga bermakna

Followers

Pages

  • Home
  • Facebook

Sample text

About Us

Powered by Blogger.

Kado indah dari ALLAH

2:40 AM - Posted by Unknown - 0 comments
2.40 am, aku terbangun. Entah mimpi apa yang mengganggu.  Akhir – akhir ini terlalu banyak yang terpikirkan.  Tugas terakhir perkuliahan sebelum UAS, kejar deadline organisasi, bimbingan bahasa, belum lagi urusan dapur di kos. tinggal berenam dalam suatu rumah memang berat. Perbedaan karakter  memberikan dinamika dalam suatu perjalan hidup. Menjadi seorang kakak memang berat dan di kos ini peran tersebut begitu kurasakan. Sifat manja, kekanak-kanakkan, cuek, penyendiri  memberikan ku sedikit  pembelajaran. Ya , pembelajaran bagaimana menghadapi mereka. Terlahir menjadi anak pertama dari empat bersaudara  membuat ku perpikir dewasa. Berusaha menjadi panutan adik-adik, dan ingin menjadi yang terbaik untuk keluarga.  Hidup menjadi keluarga kecil ditengah-tengah keluarga besar  tidak begitu menyenangkan. Namun itulah cambuk buat ku, cambuk agar aku tersadar.  Aku tahu dan sadar, mereka lebih hebat namun akan ku buktikan bahwa aku juga bisa menjadi hebat, hebat dengan catatan prestasi.


**

Ku langkahkan kaki, berjalan menuju kran air. Hembusan angin malam membuat ku sedikit menundah gerakan ku berikutnya. kucuci kedua tangan ku. Dinginnya air sedikit membuat bulu kuduk ku bediri. Ku basuh wajah ku. Begitu menyegarkan. Air wudhu yang selalu menenangkan jiwa yang resa ini.

**
Tediam diatas sajadah. Merenung, teringat kedua orang tua. Bisa kah aku membahagiakan mereka. Masih sampaikah napas berhembus hinggah sukses itu ku jemput, saat  kata “sarjana” telah menjadi bagian nama ku? Teringat kata ayah saat sedang barsantai ditangga  rumah. “mungkinkah papa bisa  melihat mu sukses nanti, menyerahkan mu dengan lelaki pilihan mu,  mengendong cucuku nanti,?” tangisan ku pecah dikesunyian malam.  Bersujud kembali meminta ampun atas atas khilaf selama ini. Teringat percakapan sore tadi bersama adik “papa lagi sakit, dari kemaren batuk-batuk”.  Dan bertambah deraslah aliran air mata ini hingga azan berkumandang.

**
Akhir-akhir ini urusan asmara ku tak berjalan lancar. Sudah seminggu tak ada kabarnya. Kutahu pekerjaannya membuat waktu untuk ku berkurang.  Aku tak pernah komplen tentang itu. aku sadar karena dialah tumpuan keluarganya. Merantau jauh demi menghidupi keluarga dan biaya sekolah adik-adiknya. Namun, akhir-akhir ini berbeda. Aku tak yakin, namun perasaan ku mengatakan dia ada masalah. Kucoba telepon, namun tak pernah terjawab. Kucoba mengirimkannya pesan namun tak dibalas. Ada apa ini. Dia tak seperti biasanya. Mungkinkah dia marah pada ku. Marah atas sikap ku yang selama ini kurang berkenan dihatinya. Mungkin karena aku terlalu percaya diri,  bahwa dia tidak akan pernah marah, dia akan selalu mengerti setiap keadaan ku. Karena ku tahu cincin yang dia berikan padaku merupakan bukti keseriusannya padaku. Kutenangkan lagi rasa ini. Mungkin dia sedang sibuk disana, hingga tak sempat mengecek ponselnya. Minggu pertama tak begitu kuhiraukan, namun hinggah minggu ke dua tetap tak ada kabarnya.  Ku kirimkan pesan singkat padanya.  Hanya beberapa balasan lalu dia pamit untuk bekerja. Kutenangkan pikiran, ku tak mau kosentrasi ujian ku terbagi dengan masalah ini.

Ujian pun berakhir, kucoba menghubunginya. Panggilan pertama tak terjawab, panggilan kedua pun begitu. Kucoba lagi, berharap akan adalah balasan suara dari seberang. Dan Alhamdulillah tersambung. Namun bukan dia, bukan dia yg menjawabnya. Dengan nada tertawa dia menyapa. Kutanyakan kemana pemiliknya.  “dia sedang sakit”. Namun ada perasaan menjanggal. Dilanjutkannlah percakapannya. Dan membuatku harus menutup telepon     dengan segera. Aku seakan sedang dipermainkan.  Sambil merenung tangan ku memasukkan pakaian dalam koper. Aku tak pernah terpikir akan seperti ini. Jenuhkah dia pada ku, cape kah dia hadapi aku, hinggah untuk menjawab telpon ku  meminta bantuan pada orang lain. Kusegerakan mengatur barang. Ku ambil buku catatan kecil ku. Aku tak suka bercerita pada orang, terutama urusan seperti  ini. Ku mulai menulis

Seminggu berlalu
Namun kau tetap dalam diam mu
2 minggu berlalu
Dan kau masih tetap dalam diam mu
Ada apa ini
Salahkan aku pada mu
Ku takut diam ini menjadi benci
Aku rindu kau
Rindu kau yang dulu
Yang berani mencuri waktu
Untuk mengabariku
Mana sosok itu
Aku rindu
Mungkin dimensi waktu sedang bermain dengan kita
Tapi
Cukuplah jarak yang memisahkan kita
Jangan tambah dengan seperti ini

Minggu, 23 April
**
Hingga aku kembali dari liburan dirumah, kabarnya tak terdengar. Sudah kuputuskan, ku akan menunggu. Mungkin dimensi waktu sedang bermain dengan kita.

Ku buka akun social media ku. Sudah lama tak pernah ku tengok.  Banyak pesan yang masuk namun tak satupun dari dia. Sudahlah, sambil mencari seseorang yang bisa kuajak cerita. Tak ada maksud lain hanya sekedar menyapa. Dan ada yang membalas. Betapa terkejutnya aku orang yang membalas chat ku. Dia, sosok yang kuanggap cuek dan jutek selama ini. Dia  yang sampai sekarang masih tersimpan rapat dihati.

Aku tak berharap banyak, kuingatkan pada diriku untuk selalu terkontrol. Namun aku senang, disaat aku lelah dengan semua masalah yang ada , dia selalu tiba-tiba hadir menyapa dengan hangat. Walaupun jarang berkomunikasi, namun jika ada waktu saling bertukar cerita, walaupun balasannya akan diterima seminggu kemudian.

Sedikit mengibur ketika suasana hati sedang tidak bersahabat, apalagi ditambah keluarga besar yang semangkin bertingkah. Papa, mama tak pernah menceritakan hal tersebut, namun begitu terasa setiap pulang berlibur. Hawa panas yang membuat ku tak nyaman dan takut.

Hari ini pengumuman. Mendebarkan, walaupun awalnya hanya berniat ikut-ikutan. Ya, ikut-ikutan mengikuti test pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Sambil melangkah menuju mading, kucoba mengirim pesan kepada orang tua ku. Kulihat dengan teliti nama yang tercantum di kertas putih itu. dan. .
Ada, namaku ada dikertas itu. Alhamdulillah. . tak berpikir panjang ku kabari mama, papa.

**
Masih dalam nuansa bahagia, aku terbangun. Waktu menunjukkan pukul 03.10 am. Kulangkahkan kaki, membasuh wajah dengan segarnya air wudhu. Membentang sajadah dan   mengucap syukur dalam gerakan khyusu..
Sambil menunggu panggilan subuh, kulantunkan beberapa ayat hingga tiba-tiba ponsel berbunyi. 04.07 am, “assalamu alaikum, sudah bangun rupanya, maaf menelpon mu sepagi ini. Pesan mu sudah kubaca. Selamat ya. Jadilah yang terbaik untuk kedua orang tuamu, adik-adik mu, orang- orang terkasih mu. Aku yakin kau pasti bisa.  Aku bangga pada mu, dan aku ingin juga membuat mu bangga pada ku, seperti janji ku menjadi terbaik untuk orang-orang terkasih ku”..
Aku terdiam, belum sempat menjawab , dia pun melanjutkan “maaf aku tak bisa lama, aku sedang dibandara, akan kukabari setelah tiba. Good luck ya”..

Mimpi kah ini? Lamunanku dibuyarkan oleh panggilan subuh.

**
Catatan :
Ya Allah, terima kasih untuk hadiah indah ini. Engkau begitu romantic. Saat tubuh ini sedang bersedih, begitu lelahnya dengan kehidupan, Kau hadirkan kabar bahagia. Ya Allah, terima kasih untuk nafas yang berhembus hingga detik ini, terima kasih untuk kesehatan ini, terima kasih untuk segala masalah ini. Karena aku sadar, setiap masalah yang KAU berikan meupakan latihan, latihan untuk menerima hadiah indah nantinya. Cabang jalan didepan semakin banyak. Hamba mohon ya ALLAH, tunjukkanlah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang ENGKAU ridhoi bukan jalan orang-orang yang ENGKAU murkai. Terimah kasih untuk kabar subuh ini. . (04,07 am)

Rabu , 24 juli. . .





This entry was posted on 2:40 AM and is filed under cerpen , tentang dia . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ► August (3)
    • ▼ July (10)
      • Mengapa
      • Kenangan dan Kerinduan
      • Kado indah dari ALLAH
      • Kau dan Marah mu
      • berlayar
      • Ada apa?
      • Kau dan Cuek mu
      • tentang SMA dan Dia
      • Ramadhan mba Toyib?
      • sederhana dan semoga bermakna

Popular Posts

  • berlayar
    Entah apa namanya, saat rasa ini berkecambuk dijiwa. Terkadang saya bingung, ada apa dengan saya? Apa yang terjadi? Apa yang ingin saya lak...
  • Cinta Monyet
    Ketika aku kecil aku pernah menyukai seorang yang jauh dari umurku. Kata orang itu adalah cinta monyet. Cinta anak kecil yang akan berubah ...
  • Tuhan, Ampuni rasa ini
    Tuhan, Engkau jelas mengetahui rasa ini bahkan lebih tahu dari akal sehat ku sendri Tuhan, rasa ini begitu sulit kujabarkan dan terkad...
  • Rindu
    Malam, ketika surat ini tak sampai ketangannya biarkan rasa ini tersimpan tersimpan rapat bersama surat ini cukup malam ini yang menjadi...
  • Kagum atau Jatuh Cinta?
    Senior dan junior terkadang menjadi sebuah pembeda dan pembatas untuk saling beinteraksi. Tapi kisah kali ini sedikit beda. Dia bukan seper...
  • masih sama !
    Kupikir, aku  sudah bisa melupakan mu dan mengakhirinya di awal tahun. Ternyata aku salah. Hinggah detik ini aku pun belum bisa melupakan m...
  • tentang SMA dan Dia
    Semua orang pasti punya cerita cinta monyet, cinta waktu SMP, cinta SMA atau cinta-cinta yang lain. Dan ini ada sebuah cerita cinta waktu S...
  • Akhir cerita fantasi Disneyland
    Snow white and seven drawfs, Cinderella, beauty and the beast, sleeping beauty dan lain-lain . Siapa yang tidak mengenal ceritanya? Cerit...
  • Kenapa Lagi???
    Dan untuk kesekian kalinya. Aku kangen kamu bodohh.. hahhaaahah,, dan entah untuk yang keberapa kalinya janji yang terucap diingkari...
  • menjadi "DORA" semalam
    Huaamm,, Selamat pagi dunia. Upss sebenarnya gk lagi pagi denk. Mentari udah terlalu lama berjalan menuju puncak. Jadi saya ganti ya. SELA...

Archivo del blog

  • ► 2016 (5)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► May (2)
  • ► 2015 (5)
    • ► October (2)
    • ► September (1)
    • ► July (1)
    • ► June (1)
  • ► 2014 (10)
    • ► November (1)
    • ► October (2)
    • ► June (1)
    • ► May (1)
    • ► April (2)
    • ► February (2)
    • ► January (1)
  • ▼ 2013 (23)
    • ► December (1)
    • ► November (2)
    • ► October (3)
    • ► September (4)
    • ► August (3)
    • ▼ July (10)
      • Mengapa
      • Kenangan dan Kerinduan
      • Kado indah dari ALLAH
      • Kau dan Marah mu
      • berlayar
      • Ada apa?
      • Kau dan Cuek mu
      • tentang SMA dan Dia
      • Ramadhan mba Toyib?
      • sederhana dan semoga bermakna

Labels

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Search

Etiquetas

  • cerita baru (1)
  • cerpen (4)
  • curcol (17)
  • event (1)
  • Idul Adha (1)
  • puisi (11)
  • Seoul (1)
  • tentang dia (7)

Coretan Pensil Warna-Warni

Wednesday, July 24, 2013

Kado indah dari ALLAH

2.40 am, aku terbangun. Entah mimpi apa yang mengganggu.  Akhir – akhir ini terlalu banyak yang terpikirkan.  Tugas terakhir perkuliahan sebelum UAS, kejar deadline organisasi, bimbingan bahasa, belum lagi urusan dapur di kos. tinggal berenam dalam suatu rumah memang berat. Perbedaan karakter  memberikan dinamika dalam suatu perjalan hidup. Menjadi seorang kakak memang berat dan di kos ini peran tersebut begitu kurasakan. Sifat manja, kekanak-kanakkan, cuek, penyendiri  memberikan ku sedikit  pembelajaran. Ya , pembelajaran bagaimana menghadapi mereka. Terlahir menjadi anak pertama dari empat bersaudara  membuat ku perpikir dewasa. Berusaha menjadi panutan adik-adik, dan ingin menjadi yang terbaik untuk keluarga.  Hidup menjadi keluarga kecil ditengah-tengah keluarga besar  tidak begitu menyenangkan. Namun itulah cambuk buat ku, cambuk agar aku tersadar.  Aku tahu dan sadar, mereka lebih hebat namun akan ku buktikan bahwa aku juga bisa menjadi hebat, hebat dengan catatan prestasi.


**

Ku langkahkan kaki, berjalan menuju kran air. Hembusan angin malam membuat ku sedikit menundah gerakan ku berikutnya. kucuci kedua tangan ku. Dinginnya air sedikit membuat bulu kuduk ku bediri. Ku basuh wajah ku. Begitu menyegarkan. Air wudhu yang selalu menenangkan jiwa yang resa ini.

**
Tediam diatas sajadah. Merenung, teringat kedua orang tua. Bisa kah aku membahagiakan mereka. Masih sampaikah napas berhembus hinggah sukses itu ku jemput, saat  kata “sarjana” telah menjadi bagian nama ku? Teringat kata ayah saat sedang barsantai ditangga  rumah. “mungkinkah papa bisa  melihat mu sukses nanti, menyerahkan mu dengan lelaki pilihan mu,  mengendong cucuku nanti,?” tangisan ku pecah dikesunyian malam.  Bersujud kembali meminta ampun atas atas khilaf selama ini. Teringat percakapan sore tadi bersama adik “papa lagi sakit, dari kemaren batuk-batuk”.  Dan bertambah deraslah aliran air mata ini hingga azan berkumandang.

**
Akhir-akhir ini urusan asmara ku tak berjalan lancar. Sudah seminggu tak ada kabarnya. Kutahu pekerjaannya membuat waktu untuk ku berkurang.  Aku tak pernah komplen tentang itu. aku sadar karena dialah tumpuan keluarganya. Merantau jauh demi menghidupi keluarga dan biaya sekolah adik-adiknya. Namun, akhir-akhir ini berbeda. Aku tak yakin, namun perasaan ku mengatakan dia ada masalah. Kucoba telepon, namun tak pernah terjawab. Kucoba mengirimkannya pesan namun tak dibalas. Ada apa ini. Dia tak seperti biasanya. Mungkinkah dia marah pada ku. Marah atas sikap ku yang selama ini kurang berkenan dihatinya. Mungkin karena aku terlalu percaya diri,  bahwa dia tidak akan pernah marah, dia akan selalu mengerti setiap keadaan ku. Karena ku tahu cincin yang dia berikan padaku merupakan bukti keseriusannya padaku. Kutenangkan lagi rasa ini. Mungkin dia sedang sibuk disana, hingga tak sempat mengecek ponselnya. Minggu pertama tak begitu kuhiraukan, namun hinggah minggu ke dua tetap tak ada kabarnya.  Ku kirimkan pesan singkat padanya.  Hanya beberapa balasan lalu dia pamit untuk bekerja. Kutenangkan pikiran, ku tak mau kosentrasi ujian ku terbagi dengan masalah ini.

Ujian pun berakhir, kucoba menghubunginya. Panggilan pertama tak terjawab, panggilan kedua pun begitu. Kucoba lagi, berharap akan adalah balasan suara dari seberang. Dan Alhamdulillah tersambung. Namun bukan dia, bukan dia yg menjawabnya. Dengan nada tertawa dia menyapa. Kutanyakan kemana pemiliknya.  “dia sedang sakit”. Namun ada perasaan menjanggal. Dilanjutkannlah percakapannya. Dan membuatku harus menutup telepon     dengan segera. Aku seakan sedang dipermainkan.  Sambil merenung tangan ku memasukkan pakaian dalam koper. Aku tak pernah terpikir akan seperti ini. Jenuhkah dia pada ku, cape kah dia hadapi aku, hinggah untuk menjawab telpon ku  meminta bantuan pada orang lain. Kusegerakan mengatur barang. Ku ambil buku catatan kecil ku. Aku tak suka bercerita pada orang, terutama urusan seperti  ini. Ku mulai menulis

Seminggu berlalu
Namun kau tetap dalam diam mu
2 minggu berlalu
Dan kau masih tetap dalam diam mu
Ada apa ini
Salahkan aku pada mu
Ku takut diam ini menjadi benci
Aku rindu kau
Rindu kau yang dulu
Yang berani mencuri waktu
Untuk mengabariku
Mana sosok itu
Aku rindu
Mungkin dimensi waktu sedang bermain dengan kita
Tapi
Cukuplah jarak yang memisahkan kita
Jangan tambah dengan seperti ini

Minggu, 23 April
**
Hingga aku kembali dari liburan dirumah, kabarnya tak terdengar. Sudah kuputuskan, ku akan menunggu. Mungkin dimensi waktu sedang bermain dengan kita.

Ku buka akun social media ku. Sudah lama tak pernah ku tengok.  Banyak pesan yang masuk namun tak satupun dari dia. Sudahlah, sambil mencari seseorang yang bisa kuajak cerita. Tak ada maksud lain hanya sekedar menyapa. Dan ada yang membalas. Betapa terkejutnya aku orang yang membalas chat ku. Dia, sosok yang kuanggap cuek dan jutek selama ini. Dia  yang sampai sekarang masih tersimpan rapat dihati.

Aku tak berharap banyak, kuingatkan pada diriku untuk selalu terkontrol. Namun aku senang, disaat aku lelah dengan semua masalah yang ada , dia selalu tiba-tiba hadir menyapa dengan hangat. Walaupun jarang berkomunikasi, namun jika ada waktu saling bertukar cerita, walaupun balasannya akan diterima seminggu kemudian.

Sedikit mengibur ketika suasana hati sedang tidak bersahabat, apalagi ditambah keluarga besar yang semangkin bertingkah. Papa, mama tak pernah menceritakan hal tersebut, namun begitu terasa setiap pulang berlibur. Hawa panas yang membuat ku tak nyaman dan takut.

Hari ini pengumuman. Mendebarkan, walaupun awalnya hanya berniat ikut-ikutan. Ya, ikut-ikutan mengikuti test pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Sambil melangkah menuju mading, kucoba mengirim pesan kepada orang tua ku. Kulihat dengan teliti nama yang tercantum di kertas putih itu. dan. .
Ada, namaku ada dikertas itu. Alhamdulillah. . tak berpikir panjang ku kabari mama, papa.

**
Masih dalam nuansa bahagia, aku terbangun. Waktu menunjukkan pukul 03.10 am. Kulangkahkan kaki, membasuh wajah dengan segarnya air wudhu. Membentang sajadah dan   mengucap syukur dalam gerakan khyusu..
Sambil menunggu panggilan subuh, kulantunkan beberapa ayat hingga tiba-tiba ponsel berbunyi. 04.07 am, “assalamu alaikum, sudah bangun rupanya, maaf menelpon mu sepagi ini. Pesan mu sudah kubaca. Selamat ya. Jadilah yang terbaik untuk kedua orang tuamu, adik-adik mu, orang- orang terkasih mu. Aku yakin kau pasti bisa.  Aku bangga pada mu, dan aku ingin juga membuat mu bangga pada ku, seperti janji ku menjadi terbaik untuk orang-orang terkasih ku”..
Aku terdiam, belum sempat menjawab , dia pun melanjutkan “maaf aku tak bisa lama, aku sedang dibandara, akan kukabari setelah tiba. Good luck ya”..

Mimpi kah ini? Lamunanku dibuyarkan oleh panggilan subuh.

**
Catatan :
Ya Allah, terima kasih untuk hadiah indah ini. Engkau begitu romantic. Saat tubuh ini sedang bersedih, begitu lelahnya dengan kehidupan, Kau hadirkan kabar bahagia. Ya Allah, terima kasih untuk nafas yang berhembus hingga detik ini, terima kasih untuk kesehatan ini, terima kasih untuk segala masalah ini. Karena aku sadar, setiap masalah yang KAU berikan meupakan latihan, latihan untuk menerima hadiah indah nantinya. Cabang jalan didepan semakin banyak. Hamba mohon ya ALLAH, tunjukkanlah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang ENGKAU ridhoi bukan jalan orang-orang yang ENGKAU murkai. Terimah kasih untuk kabar subuh ini. . (04,07 am)

Rabu , 24 juli. . .



Posted by Unknown at 2:40 AM
Labels: cerpen, tentang dia

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates