2.40
am, aku terbangun. Entah mimpi apa yang mengganggu. Akhir – akhir
ini terlalu banyak yang terpikirkan. Tugas terakhir perkuliahan
sebelum UAS, kejar deadline organisasi, bimbingan bahasa, belum lagi urusan
dapur di kos. tinggal berenam dalam suatu rumah memang berat. Perbedaan
karakter memberikan dinamika dalam suatu perjalan hidup. Menjadi
seorang kakak memang berat dan di kos ini peran tersebut begitu kurasakan.
Sifat manja, kekanak-kanakkan, cuek, penyendiri memberikan ku
sedikit pembelajaran. Ya , pembelajaran bagaimana menghadapi mereka.
Terlahir menjadi anak pertama dari empat bersaudara membuat ku
perpikir dewasa. Berusaha menjadi panutan adik-adik, dan ingin menjadi yang
terbaik untuk keluarga. Hidup menjadi keluarga kecil ditengah-tengah
keluarga besar tidak begitu menyenangkan. Namun itulah cambuk buat
ku, cambuk agar aku tersadar. Aku tahu dan sadar, mereka lebih hebat
namun akan ku buktikan bahwa aku juga bisa menjadi hebat, hebat dengan catatan
prestasi.
**
**
Tediam
diatas sajadah. Merenung, teringat kedua orang tua. Bisa kah aku membahagiakan
mereka. Masih sampaikah napas berhembus hinggah sukses itu ku jemput,
saat kata “sarjana” telah menjadi bagian nama ku? Teringat kata ayah
saat sedang barsantai ditangga rumah. “mungkinkah papa bisa melihat
mu sukses nanti, menyerahkan mu dengan lelaki pilihan mu, mengendong
cucuku nanti,?” tangisan ku pecah dikesunyian malam. Bersujud
kembali meminta ampun atas atas khilaf selama ini. Teringat percakapan sore
tadi bersama adik “papa lagi sakit, dari kemaren batuk-batuk”. Dan
bertambah deraslah aliran air mata ini hingga azan berkumandang.
**
Akhir-akhir
ini urusan asmara ku tak berjalan lancar. Sudah seminggu tak ada kabarnya. Kutahu
pekerjaannya membuat waktu untuk ku berkurang. Aku tak pernah
komplen tentang itu. aku sadar karena dialah tumpuan keluarganya. Merantau jauh
demi menghidupi keluarga dan biaya sekolah adik-adiknya. Namun, akhir-akhir ini
berbeda. Aku tak yakin, namun perasaan ku mengatakan dia ada masalah. Kucoba
telepon, namun tak pernah terjawab. Kucoba mengirimkannya pesan namun tak
dibalas. Ada apa ini. Dia tak seperti biasanya. Mungkinkah dia marah pada ku.
Marah atas sikap ku yang selama ini kurang berkenan dihatinya. Mungkin karena
aku terlalu percaya diri, bahwa dia tidak akan pernah marah, dia
akan selalu mengerti setiap keadaan ku. Karena ku tahu cincin yang dia berikan
padaku merupakan bukti keseriusannya padaku. Kutenangkan lagi rasa ini. Mungkin
dia sedang sibuk disana, hingga tak sempat mengecek ponselnya. Minggu pertama
tak begitu kuhiraukan, namun hinggah minggu ke dua tetap tak ada kabarnya. Ku
kirimkan pesan singkat padanya. Hanya beberapa balasan lalu dia
pamit untuk bekerja. Kutenangkan pikiran, ku tak mau kosentrasi ujian ku
terbagi dengan masalah ini.
Ujian
pun berakhir, kucoba menghubunginya. Panggilan pertama tak terjawab, panggilan
kedua pun begitu. Kucoba lagi, berharap akan adalah balasan suara dari
seberang. Dan Alhamdulillah tersambung. Namun bukan dia, bukan dia yg
menjawabnya. Dengan nada tertawa dia menyapa. Kutanyakan kemana
pemiliknya. “dia sedang sakit”. Namun ada perasaan menjanggal.
Dilanjutkannlah percakapannya. Dan membuatku harus menutup
telepon dengan segera. Aku seakan sedang
dipermainkan. Sambil merenung tangan ku memasukkan pakaian dalam
koper. Aku tak pernah terpikir akan seperti ini. Jenuhkah dia pada ku, cape kah
dia hadapi aku, hinggah untuk menjawab telpon ku meminta bantuan
pada orang lain. Kusegerakan mengatur barang. Ku ambil buku catatan kecil ku.
Aku tak suka bercerita pada orang, terutama urusan seperti ini. Ku
mulai menulis
Seminggu berlalu
Namun kau tetap dalam diam mu
2 minggu berlalu
Dan kau masih tetap dalam diam mu
Ada apa ini
Salahkan aku pada mu
Ku takut diam ini menjadi benci
Aku rindu kau
Rindu kau yang dulu
Yang berani mencuri waktu
Untuk mengabariku
Mana sosok itu
Aku rindu
Mungkin dimensi waktu sedang bermain dengan kita
Tapi
Cukuplah jarak yang memisahkan kita
Jangan tambah dengan seperti ini
Minggu, 23 April
**
Hingga aku kembali dari liburan dirumah, kabarnya tak
terdengar. Sudah kuputuskan, ku akan menunggu. Mungkin dimensi waktu sedang
bermain dengan kita.
Ku buka akun social media ku. Sudah lama tak pernah ku
tengok. Banyak pesan yang masuk namun tak satupun dari dia.
Sudahlah, sambil mencari seseorang yang bisa kuajak cerita. Tak ada maksud lain
hanya sekedar menyapa. Dan ada yang membalas. Betapa terkejutnya aku orang yang
membalas chat ku. Dia, sosok yang kuanggap cuek dan jutek selama ini. Dia yang
sampai sekarang masih tersimpan rapat dihati.
Aku tak berharap banyak, kuingatkan pada diriku untuk
selalu terkontrol. Namun aku senang, disaat aku lelah dengan semua masalah yang
ada , dia selalu tiba-tiba hadir menyapa dengan hangat. Walaupun jarang
berkomunikasi, namun jika ada waktu saling bertukar cerita, walaupun balasannya
akan diterima seminggu kemudian.
Sedikit mengibur ketika suasana hati sedang tidak
bersahabat, apalagi ditambah keluarga besar yang semangkin bertingkah. Papa,
mama tak pernah menceritakan hal tersebut, namun begitu terasa setiap pulang
berlibur. Hawa panas yang membuat ku tak nyaman dan takut.
Hari ini pengumuman. Mendebarkan, walaupun awalnya
hanya berniat ikut-ikutan. Ya, ikut-ikutan mengikuti test pertukaran mahasiswa
ke luar negeri. Sambil melangkah menuju mading, kucoba mengirim pesan kepada
orang tua ku. Kulihat dengan teliti nama yang tercantum di kertas putih itu.
dan. .
Ada, namaku ada dikertas itu. Alhamdulillah. . tak
berpikir panjang ku kabari mama, papa.
**
Masih dalam nuansa bahagia, aku terbangun. Waktu
menunjukkan pukul 03.10 am. Kulangkahkan kaki, membasuh wajah dengan segarnya
air wudhu. Membentang sajadah dan mengucap syukur dalam
gerakan khyusu..
Sambil menunggu panggilan subuh, kulantunkan beberapa
ayat hingga tiba-tiba ponsel berbunyi. 04.07 am, “assalamu alaikum,
sudah bangun rupanya, maaf menelpon mu sepagi ini. Pesan mu sudah kubaca.
Selamat ya. Jadilah yang terbaik untuk kedua orang tuamu, adik-adik mu, orang-
orang terkasih mu. Aku yakin kau pasti bisa. Aku bangga pada mu, dan
aku ingin juga membuat mu bangga pada ku, seperti janji ku menjadi terbaik
untuk orang-orang terkasih ku”..
Aku terdiam, belum sempat menjawab , dia pun
melanjutkan “maaf aku tak bisa lama, aku sedang dibandara, akan kukabari
setelah tiba. Good luck ya”..
Mimpi kah ini? Lamunanku dibuyarkan oleh panggilan
subuh.
**
Catatan :
Ya Allah, terima kasih untuk hadiah indah ini. Engkau
begitu romantic. Saat tubuh ini sedang bersedih, begitu lelahnya dengan
kehidupan, Kau hadirkan kabar bahagia. Ya Allah, terima kasih untuk nafas yang
berhembus hingga detik ini, terima kasih untuk kesehatan ini, terima kasih
untuk segala masalah ini. Karena aku sadar, setiap masalah yang KAU berikan
meupakan latihan, latihan untuk menerima hadiah indah nantinya. Cabang jalan
didepan semakin banyak. Hamba mohon ya ALLAH, tunjukkanlah jalan yang lurus,
jalan orang-orang yang ENGKAU ridhoi bukan jalan orang-orang yang ENGKAU
murkai. Terimah kasih untuk kabar subuh ini. . (04,07 am)
Rabu , 24 juli. . .

0 comments: