Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Saya hanyalah seorang anak biasa dari keluarga biasa. 20 tahun yang lalu saya terlahir di Baluwu, sebuah nama yang diberikan untuk desa yang terletak di kelurahan Melai, Baubau Sulawesi Tenggara.
Hanyalah seorang anak kampung, yang begitu senang ketika ada turis mancanegara datang berkunjung. Kota ku adalah kota yang indah,jadi tidak heran ada turis datang berkunjung. Saya hanyalah seorang anak kampung, negara mereka pun saya tak tahu. Karena tv pun saya tak punya. Begitu bangganya meniru bahasa mereka, aksen mereka yang mungkin jika saat itu direkam lalu diputar ulang mngkin terlihat seperti orang yang ***** (sensor).
Sejalan dengan berjalannya waktu, bertambah pula nama-nama tempat yang saya ketahui. Dunia ini luas. Petualangan telah dimulai sejak sekolah dasar. Kendari, Ujung pandang (sekarang Makassar) adalah tempat yang mnjadi awal pelayaran saya. Bagi orang mungkin adalah hal biasa. Namun bagi saya seorang anak kampung merupakan hal luar biasa dapat melangkahkan kaki sejauh itu.
Uang mungkin salah satu yang menjadi pertimbangan. Walaupun tergolong keluarga yang bercukupan, namun kembali lagi bahwa saya tidak terlahir menjadi anak tunggal, masih ada adik-adik saya.
Saya suka berpetualangan, namun bukan menjadi alasan untuk hanya diam ditempat. Saya suka keluar, menyibukkan diri dengan segala aktifitas yang saya bisa lakoni. Ketika ada tawaran yang memberikan kesempatan untuk lebih jauh lagi melangkah, kenapa tidak saya coba. Hinggah akhirnya saya bisa memperpanjang langkah saya hinggah ke daratan paling barat Indonesia, tempat yang sering disebut dalam lagu kebangsaan Nasional. "Dari Sabang sampai Merauke". Alhamdulillah Sabang, Null Km yg menjadi titik awal perhitungan luas Indonesia, telah tercatat dalam catatan sejarah ku.
***
Bersambung