Setiap orang pasti punya sosok yang sangat dekat dalam keluarga. Mungkin itu Ibu, Ayah, kakak, adik, paman, bibi, paman, tante, om, nenek, kakek. Dan saya yakin semua pasti mempunyai. Seperti halnya saya. saya sangat dekat dengan nenek saya. Namun, hinggah sekarang perasaan bersalah dan menyesal selalu mengerubuti hati dan pikiran saya. Saya ingin berbagi kepada teman-teman, agar kejadian yang sama tidak terjadi pada teman-teman.
20 tahun yang lalu saya lahir dalam sebuah keluarga kecil dan bahagia. terlahir dengan wujud sempurna tanpa cacat sedikit pun. sejak kecil saya sudah dirawat oleh nenek saya, karena orang tua adalah pegawai negeri yang setiap hari harus ke kantor. menginjak usia ke 3, saya memiliki adik yang terlahir dengan sempurna alhamdulillah tanpa cacat sedikit pun. Karena jarak antara tempat kerja dan rumah yang jauh, kami pun pindah kerumah dinas. Namun bukan menjadi alasan, saya tidak bertemu lagi dengan keluarga lain. Dahulu akses jalan begitu sulit. Hinggah setiap kali nenek berkunjung ketempat baru kami, tidak sedikit pengorbanan yang harus dilalui. Melewati jembatan yang hanya terbuat dari batang pohon kelapa dengan aliran sungai yang cukup deras dibawahnya. sungguh bukan pengorbanan yang kecil.
Saya sudah dekat dengan nenek sejak kecil. Bukan karena saya cucu pertama, bukan, namun karena cucu yang lain jauh. Sejak kecil saya sudah sering mengikuti nenek berpergian. karena nenek merupakan bisa (dukun nikah) yang cukup dikenal, maka tidak sedikit undangan yang datang. Dan saya selalu turut serta diantara para nenek-nenek seperjuangan beliau. Mengisahkankan banyak cerita yang begitu indah jika dikenang, membuat tertawa geli karena tingkah manja, dan membuat saya sudah mengenal tradisi daerah sejak kecil.
Setelah masuk taman kanak-kanak saya sudah sedikit jarang diajak, terkecuali ada libur atau memang sudah ijin sebelumnya. Dari desa ke desa, kota ke kota sudah sering saya lakukan sejak usia masih dini. Begitu banyak kenangan yang dikisahkan. Dan mungkin saking manjannya dan dimanjakkan sama nenek, sampai-sampai saya dikatakan anak yang cengeng. Namun sesungguhnya tidak.
Setelah masuk Sekolah dasar, sikap saya tidak berubah, masih sering manja dan dimanjakkan oleh nenek. Setelah bibi dan paman menikah, rumah nenek sepi. Itulah sebabnya ketika malam menjelang malam saya kerumah nenek. jaraknya tidak jauh. Hanya melangkah sekitar 4 langkah maka tibalah di istana nenek. Ritual ini saya lakukan sampai saya SMP. Namun terkadang saya tidak berkunjung karena udangan datang silih berganti. Kenangan indah yang tercipta begitu banyak. Entah berapa bab untuk menceritakannya.
Namun, ketika kelas 3 SMP, tubuh rentahnya sudah mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Dan disinilah rasa menyesal dan bersalah itu muncul ketika mnegingatnya. sudah sekitar 4 tahun kepergiannya, namun rasa ini masih sangat bersalah. Aku tak bermaksud untuk menangisi kepergiannya, tidak. bukan. aku begitu berdosa.
Entahlah, apa yang ada dipikiran saya saat itu. mungkin Karena masa pubert yang masih ingin bermain,hinggah untuk melayani nenek saja saya laksanaka dengan terpaksa. Merasa sangat berdosa. Dulu beliau begitu melayani saya, apa pun keinginan saya selalu Ia turuti, tak pernah memandangan seberapa berat nya permintaansaya selalu Ia usahakan untuk terpenuhi. Mungkin bukan saat itu, tetapi pasti akan terpenuhi.
Namun apa yang telah saya lakukan, disaat Ia ingin dimanja oleh cucu-cucu, saya malah cuek dengan segala alasan. Membantahnya, dan tak mengindahkan ucapannya. saya merasa menjadi cucu yang, yang, yang , yang entah apa sebutan yang pantas. Dan saat itu tiba, ketika sudah saatnya Ia kembali kepada sang Pencipta, saya hanya bisa menangis, menangisi diri sendri yang tak sempat berbuat sesuatu untuk detik-detik kepulangannya.
dear neneku tesayang
nenek,
aku tak pernah merasa bahwa nenek akan pergi secepat itu
aku tak menyangka bahwa pemberian itu
adalah terakhir dari nenek
tak pantas sepertinya aku menyandangkan gelar itu
gelar sebagai cucu tersayang
nenek
maaf kan aku yang hingga kini
masih menangisi kenangan indah bersama nenek
saat pergi bersama nenek
saat berlayar bersama nenek
bahkan tidur bersama teman-teman nenek
saat lampu padam
aku takut, mata tak bisa terpejam
karena cerita hantu yang kukarang sendiri
namun, tangan keriput nenek
mampu menenangkan ketakutan ini.
saat waktu tidur ku tiba,
nenek juga ikut tertidur,
menemaniku hingga terlelap
walaupun nantinya nenek akan terbangun untuk melakukan sesuatu
Nek,
dari nenek aku belajar banyak hal,
tentang hidup
kerja keras,
Tentang sang Pencipta
dan yang terpenting tentang saling memaafkan
Nek
maaf. malam ini
tangis ku sedikit menetes
mengiringi kenangan indah yang kuputar ulang
Nek
Aku ingin bertemu
walau hanya dalam mimpi
Nek
dalam setiap sujud dan doaku
Syurga adalah tempat yg kupintah
sebagai tempat bertemu nanti
Ammiiiinnnn
**
Nenek saya kangen nenek,,
semoga nenek ditempatkan di tempatkan ditempat terbaik di sisi Allah bersama kakek,, amiiinnn
semoga nenek ditempatkan di tempatkan ditempat terbaik di sisi Allah bersama kakek,, amiiinnn
**
waktu itu tidak ada yang tahu,
penyesalan selalu datang terlambat,,
dan takdir itu sudah digariskan,
selagi masih ada waktu berbuatlah yang baik-baik,
mengabdilah kepada orang tua
karena ketika sesal itu telah hadir,
rasa bersalah itu lebih besar dari pda trauma

0 comments: