Tidur yang nyenyak. Bahkan sangat nyenyak. Kurentakkan tangan sepanjang-panjangnya sambil menghirup udara pagi yang masih begitu segar. Tiba-tiba aroma itu tercium lagi. Masuk disela-sela udara bersih yang sedang kunikmati. Aroma khas yang selalu menyapa dengan lembut. Tiba-tiba terputar kembali. Aku merindukannya. Aroma ini seakan menggantikannya untuk menyapa ku setiap pagi. "Setangkai mawar merah" yg ia berikan setahun yg lalu.. bahkan tangkai yg hampir terlupakan. Yg tersimpan rapi disalah satu sudut kamar. Menemani deretan buku-buku yg tersusun rapi.
Aroma itu tercium lagi. Tertangkap oleh indra pencium lalu menuju saraf-saraf lalu dibawa ke pusat pembacaan untuk diterjemaahkan. Namun kali ini terjemahan itu tidak dihantarkan ke bagian tubuh yg lain untuk dipresentasikan. Tetapi terjemahan itu seakan digunakan sebagai kunci terputarnya kembali rekaman indah itu. Aku menikmati setiap putaran - putaran kenangan indah itu. Seakan sedang menonton didepan layar televisi. Semua terekam dengan jelas. Beberapa kali bibir ini membuat garis lengkung. Namun beberapa saat kemudian aku terdiam. Semua tinggallah kenangan . Kenangan indah yg masih tersimpan dimemoriku.
Aku bersyukur pernah berkenalan dengan lelaki itu. Lelaki yang telah memberikan ku banyak pengalaman dan pelajaran. Lelaki yang bukan sekedar kekasih namun sebagai kakak dan sahabat. Walaupun pada akhirnya hubungan kami berakhir karena sebuah alasan. Namun tak ada dendam atau kekecewaan pada kami berdua. Tuhan punya rencana lain untuk kami berdua.. setidaknya itulah kata-kata penguat saat kata berpisah menjadi pilihan saat itu..
**
sampai kapan ku, kau masih lelaki yg memiliki catatan tersendri dalam diari cerita hidup ku. Yang telah menorehkan warna-warni dalam hari ku. Terima kasih. Terima kasih untuk mawar merahnya..
0 comments: